BPI mengingatkan orang tua tentang risiko situs film bajakan yang mengandung konten berbahaya.
- Selasa, 21 Juli 2026 - 19:33 WIB
WowKeren - Badan Perfilman Indonesia (BPI) baru-baru ini mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, khususnya orang tua, untuk menjauhi situs film bajakan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, dalam sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) di Depok, Jawa Barat, pada Selasa (21/7). Menurutnya, selain melanggar hak cipta, situs-situs ilegal tersebut berpotensi memaparkan anak-anak kepada iklan judi online dan konten pornografi.
Fauzan Zidni menjelaskan bahwa platform streaming legal telah dilengkapi dengan fitur parental control dan age rating, yang sangat membantu orang tua dalam membatasi akses anak terhadap konten yang tidak sesuai dengan usia mereka. "Kalau tontonannya yang ilegal gimana? Yang bajakan? Banyak banget kan. Nah ini ibu-ibu, mesti diperhatikan lagi," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa situs film ilegal tidak memiliki perlindungan yang sama seperti platform resmi. "Karena selain tidak ada parental control-nya, tidak ada age gating-nya, juga situs-situs yang menayangkan film-film secara ilegal itu adalah situs-situs yang menayangkan iklan pornografi sama iklan judi online. Hampir semuanya seperti itu," tambahnya.
Fauzan juga memperingatkan bahwa paparan iklan tersebut dapat memicu rasa penasaran anak dan berpotensi membawa mereka mengakses konten yang tidak pantas. "Jadi nonton filmnya gratis karena bajakan, tapi dia terpapar. Lama-lama kan anak-anak ini akan penasaran, terpapar lah sama judi online. Sudah menonton yang tidak sesuai umur, terpapar sama judi online," jelasnya.
Ia mengimbau kepada orang tua untuk membiasakan anak-anak menonton film melalui platform legal yang lebih aman. Layanan resmi seperti Netflix, Vidio, dan Disney+ tidak hanya lebih aman karena memiliki fitur pembatasan usia, tetapi juga tidak menampilkan iklan judi dan pornografi. "Yang harus bayar kayak misalnya Netflix, Vidio, kemudian Disney+ segala macam itu insyaallah aman," tuturnya.
Lebih lanjut, Fauzan menekankan bahwa konten dari platform legal tidak hanya aman, tetapi juga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan film bajakan. "Selain tidak ada iklan judi, tidak ada iklan pornografi, kontennya juga bagus secara kualitas, juga tidak akan ada virus. Nah, yang bajakan-bajakan sudah ada iklan judi, pornografi, ada virusnya. Jadi rusaknya itu banyak sekali Bu," tegasnya.
Fauzan menambahkan bahwa perlindungan anak dari paparan konten yang tidak sesuai usia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga orang tua. "Nah ini mesti diperhatikan karena ini tugas kita sebagai orang tua, bukan tugas pemerintah. Kita yang ada di lembaga-lembaga membantu sosialisasikan bahwa tonton sesuai umur, tonton yang legal," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Lembaga Sensor Film (LSF) mengungkapkan bahwa hanya 46 persen anak Indonesia yang menonton film dan konten media sesuai dengan batas usia yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka dalam memilih konten yang aman dan sesuai dengan usia.
(wk/timw)