China mendukung perpanjangan gencatan senjata AS-Iran, namun situasi di Timur Tengah tetap kritis.
- Kamis, 23 April 2026 - 13:31 WIB
WowKeren - Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di tengah situasi yang masih kritis, Beijing memperingatkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah terancam meskipun gencatan senjata telah diperpanjang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyampaikan dalam konferensi pers di Beijing, "Situasi saat ini berada pada tahap kritis terkait kemungkinan berakhirnya konflik. China mendukung para pihak untuk melanjutkan upaya politik dan diplomatik guna mewujudkan gencatan senjata penuh dan bertahan lama." Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang masa gencatan senjata hingga Iran mengajukan 'proposal terpadu' untuk mengakhiri perang.
Walaupun gencatan senjata diperpanjang, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan, yang menjadi bentuk tekanan dari pihak AS. Tindakan ini memicu reaksi keras dari Tehran, di mana pemerintah Iran menolak untuk bernegosiasi 'di bawah bayang-bayang ancaman' selama blokade tersebut masih berlangsung. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengancam akan menargetkan produksi minyak di seluruh Timur Tengah jika terjadi serangan dari negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Guo Jiakun menekankan bahwa prioritas saat ini adalah mencegah kembalinya pertempuran. China menyatakan kesiapannya untuk berperan aktif dalam penyelesaian konflik, berdasarkan 'proposisi empat poin' yang diajukan oleh Presiden Xi Jinping. Proposisi tersebut mengedepankan kedaulatan, hukum internasional di bawah PBB, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.
Sementara itu, militer Iran dalam posisi siaga penuh. Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa mereka siap menyerang target yang telah ditentukan jika AS melancarkan serangan baru.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah konflik terbuka pecah pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, termasuk menyerang Teheran yang mengakibatkan korban sipil. Iran membalas dengan menggempur fasilitas militer AS dan wilayah Israel. Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata dua pekan pada 7 April, namun perundingan di Islamabad pada pertengahan April tidak berhasil mencapai kesepakatan permanen.
Kegagalan perundingan ini membuat Trump memerintahkan blokade pelabuhan Iran sejak 13 April melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak bumi dan LNG global. Terbaru, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah menyita kapal dagang Iran, Touska, yang dituduh mencoba menembus blokade di Teluk Oman.
(wk/timw)