Film Songko membawa folklor Tomohon, namun eksekusinya masih belum memuaskan.
- Rabu, 29 April 2026 - 21:34 WIB
WowKeren - Film "Songko" yang disutradarai oleh Gerald Mamahit, seorang pendatang baru di dunia perfilman, membawa harapan baru untuk genre horor Indonesia. Dengan mengangkat folklor terkenal dari Sulawesi Utara, film ini berusaha menghadirkan rasa mencekam yang berasal dari cerita rakyat, namun sayangnya, eksekusi yang dilakukan tidak sepenuhnya sesuai harapan.
Gerald Mamahit, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis naskah, memiliki niat positif dalam menyajikan "Songko" untuk memperkaya khazanah film horor di Indonesia. Folklor daerah yang beragam seharusnya menjadi kekuatan, tetapi film ini justru tampak kehilangan arah dalam penyampaian ceritanya. "Songko" dalam berbagai penuturan di masyarakat, digambarkan sebagai sosok menyeramkan, mirip dengan kuyang atau sosok tua tanpa wajah yang mengenakan songkok. Namun, harapan untuk melihat interpretasi yang menegangkan dari folklor ini tidak sepenuhnya terwujud.
Salah satu masalah utama yang muncul dalam film ini adalah penyusunan cerita yang dianggap terlalu terbebani oleh pesan moral. Gerald tampaknya berusaha keras untuk menyisipkan petuah klasik dari masyarakat Tomohon, namun hal ini justru menjadikan alur cerita terasa lamban dan tidak fokus. Penonton diharapkan merasakan ketegangan yang seharusnya disajikan melalui jumpscare, namun yang ada malah terasa seperti drama keluarga yang kebetulan berbalut horor.
Kritikan lain yang disampaikan adalah terkait dengan cara Gerald menyusun misteri dalam film ini. Meskipun ada usaha untuk menyimpan jawaban hingga akhir, banyak elemen yang sudah terungkap dari awal, baik melalui dialog maupun tingkah laku pemeran. Hal ini menjadikan momen-momen kejutan yang seharusnya menggetarkan emosi penonton menjadi hilang. Eksekusi yang tidak konsisten ini menjadikan film ini lebih terasa seperti sebuah drama dengan unsur horor yang sangat tipis.
Dengan latar lokasi syuting yang kaya akan potensi cerita, seharusnya Gerald bisa menciptakan suasana yang lebih mencekam dan mistis. Desain produksi yang ditampilkan dapat mendukung atmosfer tersebut, namun pilihan untuk menggunakan efek visual seperti CGI justru mengurangi kengerian yang bisa ditampilkan dengan tata rias dan aktor sungguhan. Ini adalah kesempatan yang terlewat untuk menggali lebih dalam ke dalam elemen-elemen horor yang hakiki.
Konflik dan resolusi dalam film ini juga dinilai kurang memuaskan. Meskipun ada bahan cerita yang menjanjikan, penyelesaian konflik terasa terlalu santun dan tidak memberikan kepuasan bagi penonton. Banyak yang berpendapat bahwa jika Gerald lebih berani mengambil pendekatan yang lebih menegangkan, hasilnya bisa jauh lebih baik.
Namun, ada satu aspek yang patut diapresiasi, yaitu kemampuan sinematografer Mikael Brahmawan. Ia berhasil menangkap keindahan lanskap Sulawesi Utara dengan baik, menambah daya tarik visual film ini. Begitu juga dengan tim desain produksi yang menunjukkan kinerja yang solid dalam menciptakan latar yang mendukung.
Meskipun "Songko" memiliki banyak catatan, harapan tidak sepenuhnya sirna. Film ini menunjukkan bahwa folklor Indonesia masih memiliki potensi besar untuk dieksplorasi lebih jauh. Dengan keragaman budaya dan cerita yang kaya, saatnya untuk membawa kisah-kisah mistis dari berbagai daerah Indonesia ke panggung dunia dengan cara yang lebih menggugah dan membanggakan.
Dalam dunia perfilman yang semakin bersaing, terutama di genre horor, film seperti "Songko" harus bisa belajar dari kekurangan-kekurangan ini. Indonesia memiliki banyak cerita menakutkan yang dapat menarik perhatian internasional, sehingga saatnya bagi para sineas untuk lebih berani dan kreatif dalam menampilkan kekayaan budaya yang dimiliki.
(wk/timw)