Presiden Emmanuel Macron menyatakan Prancis menolak ikut operasi militer AS di Selat Hormuz.
- Selasa, 05 Mei 2026 - 10:37 WIB
WowKeren - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer di jalur pelayaran penting tersebut.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Macron saat menghadiri KTT Komunitas Politik Eropa di Yerevan, Armenia, pada hari Senin, 4 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, Macron menekankan bahwa Prancis memilih untuk tidak terlibat dalam koridor militer yang diinisiasi oleh Washington.
“Kami tidak akan ikut serta dalam operasi bersenjata yang menurut saya belum memiliki kejelasan,” ungkap Macron kepada para wartawan. Pernyataan ini menunjukkan sikap hati-hati Prancis di tengah situasi yang semakin memanas di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan peluncuran proyek militer bernama 'Project Freedom'. Menurut informasi dari Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi besar ini melibatkan pengiriman kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur, berbagai platform nirawak, serta 15.000 personel militer yang mulai bergerak pada Senin pagi.
Meskipun menolak untuk menggunakan kekuatan militer, Macron tetap mendesak agar akses ke Selat Hormuz segera dibuka kembali. Ia menegaskan bahwa solusi untuk masalah ini hanya bisa dicapai melalui kesepakatan politik antara Iran dan Amerika Serikat.
“Hanya dengan adanya posisi terkoordinasi antara Teheran dan Washington yang dapat menjamin arus pelayaran yang berkelanjutan,” tambah Macron. Kondisi di kawasan tersebut semakin memburuk sejak 28 Februari lalu, dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap beberapa target di Iran.
Meskipun sempat ada gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada 7 April, upaya damai kembali menemui jalan buntu. Perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan, dan situasi semakin diperparah dengan langkah AS yang mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran.
Saat ini, sejumlah mediator internasional masih berupaya keras untuk menyusun jadwal putaran baru pembicaraan guna meredam potensi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Ketegangan yang kian meningkat di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia, dan langkah Prancis untuk tidak terlibat dalam operasi militer AS menunjukkan pendekatan diplomatik yang diambil oleh pemerintah Prancis dalam menghadapi isu ini.
(wk/timw)