Film Dilan ITB 1997 hadir dengan sentuhan baru, namun menyisakan keraguan pada pemilihan pemeran.
- Minggu, 10 Mei 2026 - 22:01 WIB
WowKeren - Film terbaru berjudul Dilan ITB 1997 mengisahkan perjalanan cinta Dilan yang kembali diangkat ke layar lebar. Dalam film ini, Dilan diperankan oleh Nazril Irham, lebih dikenal sebagai Ariel NOAH, yang menggambarkan sosok mahasiswa di era menjelang keruntuhan Orde Baru. Meskipun banyak penggemar yang menantikan kehadiran film ini, ada beberapa hal yang menjadi sorotan, terutama dalam pemilihan pemeran yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan karakter yang diciptakan.
Dalam film ini, Ariel NOAH ditunjuk sebagai pemeran utama, Dilan, yang dikenal sebagai tukang gombal. Keputusan ini tak lepas dari latar belakang Ariel yang juga berasal dari Bandung, yang dianggap dapat membawa nuansa kedaerahan yang lebih kuat. Pidi Baiq, sebagai kreator dan salah satu sutradara, tentu mengharapkan bahwa Ariel mampu menghadirkan dialog dan dialek Dilan dengan natural. Dalam beberapa adegan, Ariel berhasil menunjukkan kecakapan dalam berkomunikasi, baik dengan teman-teman kampus maupun saat berbicara lembut kepada Ancika.
Namun, ada satu kendala yang cukup signifikan, yaitu usia Ariel yang kini sudah berstatus bapak-bapak. Meskipun tim tata rias berusaha keras untuk membuat Ariel tampak lebih muda, kerutan di wajahnya masih terlihat jelas. Hal ini menjadi perhatian karena Dilan seharusnya digambarkan sebagai seorang mahasiswa yang berusia 20-25 tahun. Penampilan Niken Anjani sebagai Ancika dan Raline Shah sebagai Milea juga tidak jauh berbeda, di mana keduanya dirasa terlalu senior untuk memerankan karakter yang seharusnya masih muda.
Jika melihat dari sudut pandang cerita, akan lebih menarik jika film ini mengambil latar waktu di masa depan, ketika Dilan dan Ancika sudah menikah dan memiliki anak. Dengan begitu, interaksi antara Dilan dan Milea bisa terasa lebih relevan dan mendalam, terutama setelah perpisahan yang menyakitkan di film sebelumnya. Adegan Raline yang menanyakan kabar kepada Dilan akan terasa lebih bermakna dalam konteks tersebut.
Naskah Dilan ITB 1997 yang ditulis oleh Pidi Baiq, Adhitya Mulya, dan Ninit Yunita terbilang manis dan mampu menyentuh sisi emosional penonton. Keputusan untuk tidak terlalu banyak membahas aspek politik di dalam film ini patut diapresiasi, karena bisa mengalihkan fokus dari inti cerita yang romantis antara Dilan dan Ancika.
Kerja sama antara Pidi dan sutradara Fajar Bustomi juga terlihat sangat solid. Keduanya sukses menciptakan atmosfer Bandung pada tahun 1997 dengan bantuan Eros Eflin sebagai Art Director. Meskipun terdapat beberapa adegan yang kurang sempurna, secara keseluruhan, film ini berhasil menghadirkan suasana yang autentik dari masa lalu.
Penting untuk dicatat bahwa Dilan ITB 1997 tidak memiliki banyak adegan dramatisasi ala film sebelumnya. Keputusan ini sejalan dengan perkembangan karakter Dilan yang lebih dewasa. Pidi Baiq tampaknya ingin melengkapi setiap fase perjalanan karakter ini, sehingga penonton bisa merasakan evolusi Dilan seiring waktu.
Lagu yang ditulis oleh Ariel untuk karakter Ancika juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri, karena seolah menyatu dengan cerita yang dihadirkan. Meskipun ada keterbatasan yang terlihat dari pemilihan pemeran, film ini tetap menghadirkan momen-momen yang bisa membuat penonton tersenyum dan merasakan nostalgia.
Secara keseluruhan, Dilan ITB 1997 menawarkan pengalaman yang berbeda dari film-film sebelumnya. Meskipun ada beberapa kekurangan, film ini tetap layak untuk disaksikan, terutama bagi para penggemar setia Dilan.
(wk/timw)