Tika Bravani diam-diam merindukan Melbourne dengan sistem pendidikan yang menyenangkan kala itu.
- Senin, 11 Juni 2018 - 10:45 WIB
WowKeren - Aktris cantik Tika Bravani mulai dikenal publik setelah sukses memerankan tokoh Pipit di film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)" pada tahun 2010. Bertahun-tahun menekuni dunia seni peran membuat nama Tika semakin melejit, tak hanya sebagai aktris layar lebar, tetapi juga di sinetron "Tukang Ojek Pengkolan".
Namun siapa sangka jika ketertarikan Tika dengan seni peran sudah muncul sejak kecil. Tika yang kala itu bersekolah di Glenferrie Primary School, Australia, diam-diam mulai jatuh cinta dengan teater. Hal itu diungkap Tika melalui unggahan nostalgianya di akun Instagram @tikabravani.
"Dulu tinggal di Melbourne 1998-1999 karena papa sekolah S2," ungkap Tika mengawali tulisannya pada Minggu (10/6). "Sekolah di sekolah umum, bukan yang khusus anak asing. Jadi aja drama tiap hari selama 3 bulan karena gak bisa bahasa Inggris."
Meskipun terhalang bahasa, Tika mengaku belajar banyak hal, terutama soal toleransi umat beragama. Di sekolah tersebut, Tika juga belajar untuk mengembangkan kreativitasnya lewat berbagai tugas, terutama summer project.
"Tapi aku belajar banyak. Bentuk sekolahnya gereja, sering kebaktian, tapi mereka menghargai aku yang muslim. Bahkan mereka nanya-nanya karena ingin tahu.." kata Tika. "Indonesia itu dimana, Islam itu apa (karena beneran ingin tau. 20 th lalu mungkin info belum mengalir bebas ya)."
"Aku pun terbiasa nggak belajar dari satu arah. Mau ngerjain tugas atau diskusi, bebas gelosoran dimana aja, asal dikumpulin," ujar Tika. "Tugasnya pun mengutamakan kreativitas. Ada yang namanya summer project, bikin inovasi apa aja teseraaah.."
Kecintaan Tika terhadap teater pun muncul sejak dirinya berani tampil di berbagai pertunjukan sekolah. Meski masih kesulitan dengan bahasa, Tika ternyata lebih unggul di pelajaran Matematika dibandingkan dengan teman-temannya.
"Aku senang teater dimulai dari sekolah ini. Belajar berani tampil, belajar nyiapin pertunjukan. Setahun ada 3 kali pementasan wajib dan acara dance (inget banget mama ngga mau aku dance pake dress mini)," lanjut Tika. "Kelas 4 SD belajar matematikanya baru tambah kurang, yang mana nilaiku selalu 10, karena di Jakarta udah sampe perkalian."
Dari semua mata pelajaran yang ada, membaca adalah yang paling menarik hati Tika. Ia dan teman-teman secara rutin ke perpustakaan untuk mendengarkan cerita yang dibacakan sang guru. Ia pun diam-diam merindukan pola belajar sederhana seperti itu.
"Dan yang paling menarik ada pelajaran membaca. Bukan bahasa ya (meskipun ada sih tapi bahasa Itali. Udah gabisa bahasa Inggris dikasi Itali pula! Mau nangis)," tambah Tika. "Seminggu dua kali kita ke perpustakaan, cuma untuk dengerin guru bacain cerita dan menganalisis isi ceritanya."
"Terus ada juga tugas membaca. Tiba-tiba jadi kangen pola belajar seperti itu," tandas Tika. "Sederhana, nggak muluk-muluk banyak hafalan, tapi pas udah gede baru ngerasain, ternyata itu semua dasar pelajaran yang paling terpakai."
Beberapa netter pun ikut menyoroti pola pendidikan masa kini. Salah satu netter bahkan mengungkapkan cita-citanya membuaat sekolah dengan sistem pendidikan yang membuat para murid merasa nyaman seperti di rumah mereka sendiri. Tika pun tak ragu memberikan dukungannya untuk netter tersebut.
"Aaa kak tika. Suka ceritanya! Tbh my dream is like building a school with its own educational system where students feel like that's their home not a hell. Karena sekolah skrg menurut anak2 adalah neraka bagi mrk. Doakan kak tikaaaaa btw kakak harus baca Totto Chan (if you haven't) Bukunya jg inspirational buat bidang pendidikan," tulis akun @itsrxxx. "@itsrxxx ayo wujudkan!" dukung Tika.
(wk/Afif)