Miris, Satu dari Tiga Pegawai PBB Sebut Pernah Alami Pelecehan Seksual
Instagram/unitednations
Nasional

Sebagai organisasi dunia yang mengedepankan kesetaraan, PBB harus mampu menjadi teladan yang baik.

WowKeren - Kasus pelecehan seksual bisa terjadi dimana-mana. Namun, apa yang terjadi jika hal itu ternyata ditemukan pada organisasi dunia yang notabene dibangun atas dasar kesetaraan martabat dan hak asasi manusia? Siapa sangka jika sepertiga staf kontraktor di PBB ternyata pernah mengalami pelecehan secara seksual.

Hal itu terungkap dari survei online yang yang dilakukan untuk mengetahui prevalensi pelecehan seks yang terjadi di PBB. Survei itu dilakukan oleh Deloitte November 2018 lalu yang diikuti oleh lebih dari 30 ribu staf PBB dan para agennya.


Namun, hanya sekitar tujuh belas persen saja dari mereka yang memenuhi syarat. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan pada para stafnya melalui surat, untuk menggambarkan bahwa tingkat respons tersebut cukup rendah.

"Ini memberi tahu saya dua hal: pertama, bahwa kita masih memiliki jalan panjang sebelum kita bisa membahas pelecehan seksual secara penuh dan terbuka," tulis Guterres dilansir TheGuardian pada Kamis (17/1). "Dan kedua, bahwa mungkin juga ada rasa ketidakpercayaan yang terus-menerus, persepsi tak ada aksi dan kurangnya akuntabilitas."

Data hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 21,7 persen responden mengaku pernah menjadi sasaran untuk cerita seksual atau guyonan yang sifatnya ofensif. 14,2 persen menyebut pernah mendapat komentar ofensif terkait penampilan mereka. Sedangkan tiga belas persen sisanya mengaku pernah menjadi korban atas upaya yang menarik mereka terlibat dalam pembicaraan seksual.

Lebih dari setengah responden yang mengalami pelecehan seksual, mengaku bahwa hal itu dialami mereka saat berada di lingkungan kantor. Sedangkan terkait pelaku pelecehan, dua pertiganya adalah pria.

Guterres menyebut bahwa dalam laporan survei juga memuat tentang bukti nyata terkait hal-hal apa saja yang harus diubah demi terciptanya lingkungan kerja yang bebas dari pelecehan seksual. Sebagai organisasi dunia yang menjunjung tinggi kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia, PBB harus memberikan contoh yang lebih baik kepada dunia.

"Sebagai organisasi yang didirikan atas dasar kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia," lanjut Guterres. "Kita harus memimpin dengan memberi contoh dan menetapkan standar."

You can share this post!

Related Posts
Loading...