Sebelum dipakai Cinta Laura, Puteri Indonesia Wilda Situngkir pernah mengenakan kostum Hudoq rancangan mendiang penggagas JFC, Dynand Fariz, hingga meraih gelar Best National Costume di Miss Supranational 2018.
- Ria Susilo Wardhani
- Rabu, 07 Agustus 2019 - 10:02 WIB
WowKeren - Cinta Laura kembali memberikan dukungan buat Jember Fashion Carnaval. Ajang yang digelar 1-4 Agustus lalu ini sempat menuai kecaman dari pihak FPI Jatim.
Cinta yang tampil sebagai salah satu peserta tampak bangga pamer dirinya memakai kostum Hudoq khas Dayak di ajang JFC ke-18. Ia juga menuliskan pesan bijak seolah menyentil FPI.
"A people without the knowledge of their past, origin and culture is like a tree with no roots. Thank you @jemberfashioncarnaval for showcasing the cultural diversity Indonesia has to offer!" katanya.
Sejumlah netter juga sempat menyindir FPI Jatim yang terlalu berlebihan. Pasalnya ajang JFC ini sudah berlangsung belasan tahun namun baru sekarang menuai protes.
"Jangan selalu mencari sisi negatifnya mulu cari dong sisi positifnya... Ini dah tahun ke brp kalinya ada JFC kok baru skrg siih.. ini ajang INTERNASIONAL lhooo... Gegara ada salah satu ajang begindang indonesia dikenal seluruh dunia... Kan membanggakan toohhh..... Pikir panjang laaah.... 😀😀😀 banyak turis asing ikutan andil jd peserta di ajang ini," kata netter. "Yailah itu kan festival budaya. pakaian yg di pakai pun dibuat sesuai dgn pkaian adat msg2 suku. yg di tampilkn ada pkaian adat indonesia, dan ada bebrapa pakaian adat negara lain. yg di pke cinlau itu kn pkaian adat dri klimantan, lah bentuknya kan emg gitu. apa kbar pkaian adat papua pak? tidak semua suku di indonesia beragama islam. tau ah gelap. pdahal festival itu masuk ketegori festival pkian terbesar nomor tiga sedunia," kata netter lainnya. "Sdah th ke 18 kok baru koar2 seh FPI.hadeehhhh.. Ajang international pula.pigenik mu krng jaoh pak," tutur yang lainnya.
Sebelumnya, Ketua FPI Jatim, Haidar Alhamid, memprotes JFC tahun ini terlalu mengumbar aurat. Ia bahkan menyebut acara JFC sebagai sarana maksiat hingga menilai tak perlu digelar lagi tahun depan.
"Terus Jember jadi apa setelah ada JFC? Apa lebih makmur? Apa lebih sengsara? Jember tidak lebih baik (setelah ada JFC). Kalau cuma mengekspos, menjual rakyatnya dengan telanjang, apa gunanya sih? Dengan kemaksiatan, sekarang apa yang perlu dibanggakan?" kata Haidar. "Jember dikenal dengan telanjang, dengan maksiat, dengan meninggalkan salat, sehingga dengan acara-acara seperti itu mendatangkan uang? Apa seperti itu yang diharapkan? Jember maju, perputaran uang banyak, dengan maksiat?"
Disisi lain, kostum Hudoq yang dipakai Cinta sebenarnya justru menuai prestasi di kancah internasional. Saat dikenakan oleh Puteri Indonesia Wilda Situngkir, kostum tersebut berhasil meraih gelar Best National Costume di ajang Miss Supranational 2018 di Polandia.
Yang mengejutkan, kostum bertema The Sacred Hudoq tersebut dirancang sendiri oleh mendiang desainer sekaligus presiden JFC, Dynand Fariz, yang wafat April 2019. Kostum tersebut juga memiliki makna penting yakni merepresentasikan burung Enggang yang dipercaya sebagai simbol kebijaksanaan serta Dewa Pelindung dalam kepercayaan Dayak kuno. Sedangkan warna hijau merupakan simbol pengharapan kesuburan serta kesejahteraan.
(wk/riaw)