Pasca-Orde Baru tumbang, kebenaran akan isi cerita film G30S/PKI menuai perdebatan. Beberapa adegan dinilai tidak akurat dan cenderung menuai kritik serta kontroversi.
- Sep 30, 2019
WowKeren - Adegan paling kontroversial dalam film G30S/PKI adalah tentang sadisnya penyiksaan terhadap beberapa perwira tinggi. Film tersebut melukiskan secara gamblang bagaimana para perwira tinggi Angkatan Darat (AD) yang diculik ke Lubang Buaya dan mengalami penyiksaan hebat.
Tubuh mereka disayat-sayat dan diperlakukan secara tak manusiawi, sebagaimana dideskripsikan diorama yang terpampang di kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jakarta. Selain itu terdapat juga adegan dimana para jenderal yang dicongkel matanya serta alat-alat kelamin mereka dipotong oleh para aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)
Namun kenyataanya tidak seperti itu. Imelda Bachtiar, penulis memor kesejarahan, mewawancarai dr Liem Joe Thay yang kini lebih dikenal dengan Prof Arief Budianto. Profesor yang kini telah almarhum itu merupakan Guru Besar Kedokteran Forensik UI dan salah seorang dokter non-militer yang saat itu diminta bergabung dengan Tim Kedokteran ABRI untuk memeriksa mayat enam perwira tinggi dan satu perwira pertama korban, pada malam 4 Oktober sampai dini hari 5 Oktober 1965.
"Satu lagi, soal mata yang dicongkel. Memang, kondisi mayat ada yang bola matanya copot, bahkan ada yang sudah kontal-kantil. Tetapi itu karena sudah tiga hari terendam air di dalam sumur dan bukan karena dicongkel paksa. Saya sampai periksa ulang dengan saksama tapi matanya dan tulang-tulang sekitar kelopak mata. Apakah ada tulang yang tergores? Ternyata tidak ditemukan," ungkap Prof Arif dikutip oleh Julius Pour dalam bukunya "Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang" (Penerbit Buku Kompas, 2010).
Selain itu, Dalam laporan visum et repertum yang didapat sejarawan Ben Anderson dan diungkapkan dalam "How did the General Dies?" jurnal Indonesia, April 1987, disebutkan bahwa keadaan jenazah hanya dipenuhi luka tembak.
(wk/putr)