Saat ini, Jepang mengalami kekurangan dari segi fasilitas rumah sakit dan juga tenaga medisnya. Kondisi semakin sulit dengan kurangnya APD maupun masker untuk para tenaga medis.
- Zodiak Yanuarita
- Minggu, 19 April 2020 - 11:52 WIB
WowKeren - Kasus corona di sejumlah negara masih terus mengalami peningkatan. Di Jepang misalnya. Hingga berita ini ditulis, Minggu (19/4), berdasarkan data worldometers, tercatat ada 10.296 kasus di negeri sakura.
Jumlah pasien yang terus meroket membuat rumah sakit di Jepang kewalahan. Begitu juga dengan sistem medis darurat di sana yang tak sanggup menangani.
Bahkan baru-baru ini dilaporkan sebuah ambulans yang mengangkut pasien dengan gejala demam dan kesulitan bernapas ditolak di 80 rumah sakit. Ambulans tersebut bahkan terpaksa harus mencari selama berjam-jam untuk menemukan rumah sakit di pusat Tokyo.
Asosiasi Jepang untuk Pengobatan Akut dan Masyarakat Jepang untuk Pengobatan Darurat mengatakan jika banyak ruang gawat darurat di rumah sakit menolak merawat pasien yang menderita stroke, serangan jantung, dan cedera eksternal.
Pada mulanya, Jepang telah berupaya untuk menekan penyebaran wabah ini dengan menelusuri klaster infeksi di tempat tertentu seperti klub, gimnasium, dan tempat pertemuan. Namun rupanya upaya itu tak cukup untuk menekan penyebaran wabah ditambah dengan banyak kasus baru yang tidak terlacak sebelumnya.
Saat ini, Jepang mengalami kekurangan dari segi fasilitas rumah sakit berikut tenaga medisnya. Namun, mereka memaksa siapa pun masuk rumah sakit mana pun dengan virus, bahkan mereka yang memiliki gejala ringan. Tak pelak, hal ini membuat rumah sakit menjadi penuh dan kekurangan tenaga medis.
Banyaknya RS yang menolak untuk merawat pasien, secara tidak langsung membuat pusat darurat menanggung beban yang lebih besar, yang mana jumlah pusat darurat ini terbatas. "Kita tidak bisa lagi melakukan pengobatan darurat normal," kata Takeshi Shimazu, seorang dokter darurat Universitas Osaka seperti dilansir CNBC, Minggu (19/4).
Tak hanya itu, kondisi juga semakin sulit dengan kurangnya APD, masker, serta face shield untuk tenaga medis di sana. Kondisi ini meningkatkan risiko yang lebih tinggi bagi para tenaga medis yang merawat pasien.
(wk/zodi)