Keenam sosok Srikandi ini tentu patut ditiru, tak hanya dari segi cara mengendalikan COVID-19, juga dari bagaimana tangguhnya mereka bertahan di tengah krisis yang ada.
- Elvariza Opita
- Rabu, 22 April 2020 - 12:30 WIB
WowKeren - Media-media pemberitaan dewasa ini tentu banyak diisi dengan berita terkait pandemi Corona. Nama-nama petinggi negara dan otoritas berwenang berseliweran menunjukkan aksi pamungkas masing-masing dalam mengatasi wabah yang ada.
Namun tampaknya pemberitaan untuk pemimpin pria begitu banyak, bak mengesampingkan deretan "srikandi" yang juga sedaya upaya menyelamatkan negaranya di tengah wabah virus Corona. Dan beberapa diantara srikandi itu nyatanya benar-benar berhasil menunjukkan hasil positif dalam mengendalikan wabah.
Dilansir dari The Washington Post, berikut adalah 6 nama pemimipin wanita di dunia yang tercatat menorehkan prestasi dalam mengendalikan wabah di wilayahnya masing-masing. Tak serta-merta berhasil membuat negaranya 100 persen bebas penyakit, hanya saja wabah di negara-negara berikut bisa dikendalikan sehingga tak menimbulkan dampak mengerikan.
(wk/elva)1. Perdana Menteri Sint Maarten, Silveria Jacobs
Jacobs tak mengambil kebijakan yang bertele-tele ketika wabah pertama kali masuk ke negaranya. Negaranya yang merupakan bagian dari kepulauan di Carribean tentu memerlukan kebijakan ekstra cermat agar jangan sampai benar-benar dilumpuhkan oleh COVID-19.
Kala itu Jacobs hanya menyebutkan tiga kata yang menjadi pegangan dalam mengatasi wabah virus Corona. "Sederhana. Berhentilah bergerak!" demikian ungkap perdana menteri berusia 51 tahun tersebut kepada rakyatnya.
"Kalau Anda tidak punya roti untuk dimakan, beralihlah ke biskuit," imbuhnya, memberi contoh agar masyarakat tak memaksakan diri keluar di tengah wabah dan bertahan dengan apapun yang dimiliki. "Kalau Anda tidak punya roti, makanlah sereal, oats, sarden."
Langkah efektifnya itu pun terbukti membuat Sint Maarten terbebas dari krisis akibat COVID-19. Pidatonya yang disampaikan pada 1 April 2020 lalu itu pun menjadi viral dan menginspirasi banyak orang agar bersikap seefisien dirinya.
Dan yang terpenting, langkah efektifnya terbukti berhasil mengantarkan Sint Maarten bertahan dari krisis COVID-19. Hingga hari ini tercatat hanya ada 68 pasien positif COVID-19, dengan 10 diantaranya berakhir meninggal dunia.
2. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern
Kiprah Ardern dalam mengatasi wabah virus Corona di negaranya memang sangat dikenal publik. Bahkan negara itu kini dikenal sebagai salah satu yang berhasil mengendalikan pandemi, benar-benar dalam arti harfiah.
Ardern yang mulai menjabat pada 2017 silam itu dengan tegas meminta masyarakat untuk berdiam di rumah. Hanya mereka yang bekerja di pelayanan publik seperti kesehatan dan keamanan lah yang boleh bekerja.
"Masyarakat Selandia Baru yang tidak berkontribusi di bidang pelayanan publik, tolong tetaplah di rumah," tegasnya. "Hentikan sementara semua interaksi dengan siapapun dari luar rumahmu."
Tak hanya soal ketegasannya, kelembutan hati serta kreativitasnya dalam mendorong upaya pengendalian pandemi juga begitu disorot. Ardern diketahui tak canggung memamerkan aktivitas rumahannya, menjadi contoh agar masyarakat aktif menghabiskan waktunya di kediaman masing-masing demi mengendalikan wabah.
Ardern juga menganalogikan para petugas kesehatan sebagai peri gigi dan kelinci paskah, semata-mata agar anak-anak Selandia Baru memahami betapa pentingnya untuk tetap di rumah dan tak merepotkan para "pahlawan" tersebut. Bahkan yang terbaru, Ardern mengumumkan akan memotong 20 persen penghasilannya dan jajaran kabinet selama 6 bulan ke depan demi mengatasi wabah Corona.
Langkah Ardern yang tegas sekaligus menonjolkan "sisi kewanitaannya" ini nyatanya bekerja dengan baik. Selandia Baru kini hanya mengonfirmasi 1.451 kasus dengan 14 kematian.
3. Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg
Solberg tegas mengambil kebijakan lockdown segera setelah wabah virus Corona mulai memasuki negara yang ia pimpin. Namun kunci utama pengendalian pandeminya adalah dengan aktif melibatkan peneliti dan pakar bidang kesehatan dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis.
Menariknya, Solberg pun tak ragu menunjukkan seberapa mengerikannya wabah COVID-19. "Kita memang harus takut dengan situasi kekinian. Anak-anak juga harus mengerti seberapa mengerikannya krisis yang ada," tegas Solberg dalam wawancaranya bersama CNN, dilansir pada Rabu (22/4).
Langkah Solberg jelas terasa dampak positifnya. Hingga hari ini tercatat sudah ada 7.241 kasus positif COVID-19 di negaranya, dengan 182 dikonfirmasi meninggal dunia. Angka pasien positifnya memang lebih banyak dari Indonesia, namun rasio kematiannya sungguh jauh di bawah.
4. Perdana Menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir
Jakobsdóttir mengambil pendekatan memperbanyak tes dalam mengendalikan wabah virus Corona. Berbeda dengan negara-negara lain yang menerapkan sejumlah persyaratan bagi siapapun yang hendak tes, Jakobsdóttir membebaskan warganya untuk memeriksakan diri dan menjalani prosedur deteksi COVID-19.
Langkah ini merupakan kolaborasi pemerintahan Jakobsdóttir dengan perusahaan bioteknologi deCODE Genetics yang berbasis di Reykjavic. Mereka menyediakan tes COVID-19 gratis bagi siapapun yang merasa perlu memeriksakan diri, tak melihat apakah warga tersebut pernah ke zona merah atau berinteraksi dengan pasien positif lain.
Hingga kini tercatat hampir 43 ribu WN Islandia, atau nyaris 12 persen populasi totalnya, sudah menjalani pemeriksaan COVID-19. Sebagai pembanding, Indonesia hingga hari ini baru melakukan pemeriksaan terhadap 50.370 orang, atau kurang dari 1 persen populasi yang ada.
Tak hanya dari segi deteksinya, Jakobsdóttir juga memberikan arahan yang cepat untuk menolong warga yang harus menjalani isolasi ketika terpapar virus. Selain itu, dengan tegas sang perdana menteri juga menerapkan kebijakan social distancing, yang sedianya akan mulai "dilonggarkan" pada 4 Mei 2020 mendatang.
Kebijakan Jakobsdóttir toh benar berbuah positif. Tercatat hanya 1.778 warga yang dikonfirmasi positif COVID-19, dengan sekitar 10 orang saja yang berakhir meninggal dunia.
5. Kanselir Jerman, Angela Merkel
Merkel sempat mendapat kritikan tajam ketika awal-awal wabah menginvasi negaranya. Namun nyatanya langkah Merkel setelahnya terus menuai pujian lantaran Jerman dianggap berhasil mengatasi krisis akibat COVID-19, mengingat negara-negara tetangganya di Eropa dibuat gonjang-ganjing oleh virus yang sama.
Yang begitu disoroti banyak pihak adalah sikap Merkel yang selalu "memanusiakan" para pasien COVID-19. Sikapnya yang penuh empati ini membuat setiap orang memahami betapa mengerikannya wabah yang ada apabila masyarakat tak bekerja sama mengatasi pandemi yang ada.
"Saya yakin kita bisa mengatasi krisis yang ada," ujar Merkel. "Tapi kita harus kehilangan berapa banyak orang yang kita cintai untuk sampai ke tahap tersebut?"
"(Mereka yang meninggal) adalah ayah atau kakek kita, adalah ibu atau nenek kita, adalah kerabat dan pasangan kita," imbuhnya, menegaskan kematian akibat COVID-19 berdampak begitu besar bagi setiap keluarga yang ditinggalkan. "Mereka juga manusia. Kita juga manusia, yang hidup dalam komunitas untuk terus memanusiakan orang lain."
Pidato Merkel ini bak menjadi titik balik dalam perjuangan Jerman melawan pandemi yang ada. Pengamat kebijakan publik, Constanze Stelzenmuller memuji pidato luar biasa dari kanselir yang sudah 14 tahun menjabat itu. "Pidatonya sangat jelas, tidak bertele-tele, begitu membumi, penuh empati, dan sangat personal," puji Stelzenmuller.
Kini Jerman memetik "buah manis" dari sikap tegas Merkel tersebut. Walau Jerman masuk di 5 besar negara dengan pasien positif COVID-19 terbanyak di dunia, dengan 148.453 kasus, langkah Merkel nyatanya terbukti berhasil mengendalikan jumlah korban jiwa yang ditimbulkan. Hingga hari ini hanya ada 5.086 pasien yang dinyatakan meninggal dunia, dengan 99.400 lainnya sembuh.
Jerman pun berencana untuk memperpanjang lockdown demi mengatasi wabah. Namun beberapa kelonggaran akan diberikan, seperti bisnis dan sekolah-sekolah yang akan mulai dibuka pada Mei 2020.
6. Presiden Taiwan, Tsai Ing-Wen
Sudah menjadi rahasia umum COVID-19 bermula dari Provinsi Hubei, Tiongkok. Taiwan sebagai salah satu "negara bagian" Tiongkok tentu diliputi kekhawatiran akan "tertular" virus yang menginfeksi saluran pernapasan tersebut.
Presiden Tsai, didampingi wakilnya, Chen Chien-Jen yang juga seorang ahli epidemi bergerak cepat mengambil kebijakan untuk mengatasi wabah yang ada. Salah satunya dengan melarang kedatangan para turis dan menerapkan kebijakan baru di bidang pemeriksaan kesehatan.
Ada hasil manis yang dituai dari kesigapan Taiwan ini. Hingga hari ini hanya ada 425 orang yang dikonfirmasi positif COVID-19, dengan nyaris setengahnya dikonfirmasi sembuh.
Dalam wawancaranya dengan CNN, Chen mengaku banyak bercermin dari wabah SARS pada 2003 lalu. Tak hanya itu, sang presiden pun dengan berani mengkritik kebijakan Tiongkok, yang notabene merupakan "negara induknya" dalam merespons pandemi COVID-19.