Kaum buta tuli biasa bergantung pada indera sentuhan mereka untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Miris kini bersentuhan menjadi salah satu hal yang sangat dihindari di tengah pandemi COVID-19.
- Elvariza Opita
- Minggu, 26 April 2020 - 23:23 WIB
WowKeren - Social distancing menjadi upaya yang ditempuh berbagai negara demi mengentaskan pandemi COVID-19. Alhasil kini kontak kulit antar individu bak menjadi ranjau yang mesti dihindari agar tak tertular wabah.
Kondisi itu jelas berat dilakoni, bahkan untuk individu normal yang memiliki alat indera lengkap. Namun kesulitan yang dialami kaum buta tuli berikut ini sungguh tak sulit untuk sekadar digambarkan dengan kata-kata.
"Kami berkomunikasi, menjalani hidup, semua bergantung pada sentuhan," ujar representatif kaum buta tuli di North Carolina, Amerika Serikat, Ashley Benton. "Namun sekarang kami tidak boleh bersentuh, kami dipaksa melakukan social distancing."
Benton menyebut, kaum buta tuli sepertinya selalu mengandalkan sentuhan dalam beraktivitas. Seperti dengan menyentuh huruf braille, berpelukan dan berjabat tangan sebagai wujud salam. Sedangkan saat ini sentuhan benar-benar dihindari karena risiko tinggi kontaminasi.
"Ini masalah besar," ujar kaum buta tuli dari Seattle, Jorge Aristizabal, seperti dikutip dari Good Morning America, Minggu (26/4). "Kami harus menjaga jarak sejauh 6 kaki dari orang lain. Kondisi itu benar-benar tidak aman bagiku. Sebagai orang buta aku harus bergantung pada pemanduku."
Di sinilah letak masalah selanjutnya. Kaum buta tuli biasa dibantu oleh pemandu dalam beraktivitas sehari-hari. Namun saat ini mereka benar-benar mengurangi sentuhan agar tak berisiko tertular.
Implikasinya? Tentu saja kehidupan para kaum buta tuli inilah yang terhambat. Mereka jadi kesulitan menggunakan moda transportasi umum, dan bahkan kesulitan untuk berbelanja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami memiliki banyak relawan (pemandu) kalau kondisinya baik-baik saja (tidak sedang wabah)," ujar Presiden dan CEO Columbia Lighthouse for The Blind, sebuah komunitas nirlaba berbasis di Washington DC, Tony Cancelosi. "Tapi sekarang tantangannya adalah menemukan mereka yang mau mengambil risiko bekerja di posisi yang memungkinkanmu kontak dengan virus."
Tak hanya itu, kesulitan berkomunikasi karena mobilitas masyarakat begitu dikekang membuat para kaum buta tuli ini mengaku semakin kesepian. Seperti diungkap oleh Philip Wismer, seorang mahasiswa tahun pertama di Universitas Gallaudet Washington DC.
"Kadang kala aku merasa kesepian. Temanku yang benar-benar buta sangat merasa sepi, seperti terisolir," jelasnya. "Situasi ini memang sulit bagi setiap orang, namun jauh lebih sulit bagi kami, kaum buta tuli di seluruh penjuru negeri."
Oleh karena itulah, Cancelosi dan jajaran mempersiapkan berbagai program agar kaum buta tuli tetap bisa berkarya dan tidak merasa benar-benar sendirian di tengah wabah seperti saat ini. Seperti misalnya dengan pembelajaran virtual bersama anak-anak yang juga merasakan hal serupa.
(wk/elva)