Menjadi awal pusat pandemi corona di Italia, terungkap kota kecil ini mengandalkan eksperimen unik yang tiada duanya dalam menangani kasus COVID-19. Apa itu?
- Ruth Meliana
- Senin, 27 April 2020 - 12:23 WIB
WowKeren - Sebuah kota kecil yang indah di kawasan Italia Utara, yaitu Padua Vo’ Euganeo merupakan pusat epidemi virus corona (COVID-19) pertama di negara tersebut. Namun, kota ini juga turut menjadi lokasi sebuah eksperimen ilmiah dalam menangani virus corona.
Pemerintah Italia mengumumkan lockdown untuk Vo’ Euganeo pada tanggal 23 Februari lalu setelah kasus virus corona terdeteksi semakin banyak. Wali Kota Vo’, Giuliano Martini juga meminta seluruh sekolah, bar, toko-toko, dan halte bus ditutup. Misa gereja dan pesta dilarang, serta warga tak boleh keluar rumah.
Polisi dan tentara juga dikirim oleh Pemerintah Italia di wilayah tersebut untuk menutup akses ke kota tersebut. Keluar masuk kota dilarang kecuali untuk truk pemasok supermarket, toko roti dan apotik.
”Seperti di perang,” kata Martini seperti dilansir dari BBC, Senin (27/4). “Dikurung dan dikepung oleh tentara negeri sendiri rasanya lebih buruk daripada dipenjara.”
Kala itu, bagaimana virus corona dapat menyebar di kota kecil tersebut belum bisa terjawab. Pasalnya, pasien-pasien virus corona di kota tersebut diketahui tidak bepergian ke Tiongkok serta tidak melakukan kontak dengan orang yang memiliki gejala COVID-19.
Petugas kesehatan di Italia langsung membangun pusat analisis di sekolah untuk menjalankan tes guna mendeteksi penyebaran virus corona. Tes COVID-19 juga dijalankan bagi seluruh penduduk yang menginginkannya.
Hasilnya, seluruh penduduk Vo’ dalam tempo waktu enam hari secara sukarela menjalani tes virus corona. Alat-alat pemeriksaan ini disiapkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padua, dipimpin oleh Profesor Stefano Merigliano.
Wali Kota Vo’ pun menyatakan rasa bangganya terhadap inisiatif warga untuk melakukan tes secara mandiri. “Ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya semangat kerja sama seluruh warga,” ujar Martini.
Berkat tes itu, petugas kesehatan berhasil menemukan 89 orang yang terinfeksi virus corona. Mereka langsung diperintahkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 2 minggu.
Yang lebih mengejutkan, hasil tes tersebut menyatakan lebih dari setengah pasien yang dinyatakan virus corona sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala. “Ini tidak pernah terjadi pada sejarah epidemi di abad lalu,” jelas profesor Merigliano.
Sementara itu, Profesor Epidemiologi dan Virologi di Universitas Padua dan Imperial College London, Andrea Crisanti menyatakan hal tersebut sangat berbahaya. Pasalnya, pasien tanpa gejala bisa tanpa sadar menulari virus corona ke sejumlah besar orang.
“Besarnya persentase mereka yang tak bergejala atau asimptomatik ini sangat berbahaya,” terang Andrea Crisanti. “Karena pasien akan terus menjalankan kegiatan mereka sehari-hari lalu menulari sejumlah besar orang.”
Merigliano dan Crisanti lantas mengusulkan ide kepada Gubernur Veneto, Luca Zaia untuk mengubah Vo' Euganeo menjadi laboratorium eksperimen yang unik di dunia. Laboratorium ini dinilai bisa mendeteksi perilaku dari virus corona yang belum diketahui.
”Kita memiliki kondisi yang unik untuk bisa memahami perilaku virus ini,” papar Merigliano. “Ada sampel yang konsisten dari orang-orang yang dikarantina.”
”Kita tahu status kesehatan mereka, kita bisa mengendalikan pergerakan mereka, dan tahu dengan siapa saja mereka berhubungan,” sambungnya. “Ini laboratorium sempurna.”
Pemerintah setempat akhirnya memberikan persetujuan akan laboratorium unik itu pada tanggal 6 Maret. Satu tim dari Universitas Padua datang untuk mengendalikan wabah di Vo' Euganeo. Kala itu, infeksi di Italia sudah mencapai 4.636 kasus terkonfirmasi, dengan 197 kematian.
Demi memahami fokus eksperimen, Crisanti membandingkan kasus Vo' Euganeo dengan kasus kapal pesiar Diamond Princess, yang sempat ditahan selama dua minggu di pelabuhan di Jepang ketika dideteksi ada penumpang yang tertular. Menurutnya, jumlah populasi kota Vo’ sama dengan penumpang kapal pesiar itu.
”Sebelumnya hanya perkiraan,” kata Crisanti. “Saat itu kami secara ilmiah masih mencoba membuktikan dua soal mendasar terkait periode inkubasi virus, dan strategi menahan penyebaran harus memperhitungkan besarnya jumlah pasien yang tak memperlihatkan gejala.”
“Di atas kapal ada 3.000 orang penumpang dan awak,” sambungnya. “Jumlah ini sama dengan populasi Vo' Euganeo. Namun mereka memutuskan untuk melakukan tes kepada orang yang bergejala saja. Sesudah dua minggu karantina, ada 542 kasus positif dilaporkan.”
(wk/lian)