India Mulai Produksi dan Uji Coba Vaksin COVID-19
Dunia

Lembaga Serum SII menyatakan siap memproduksi vaksin tidak hanya untuk India tetapi juga seluruh dunia. Bahkan, SII tidak akan mematenkan vaksin atau apa pun yang dikembangkan terkait COVID-19.

WowKeren - Lembaga Serum Vaksin India (SII) berencana memulai produksi vaksin virus corona (COVID-19) yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dalam tiga pekan mendatang. Jika uji klinis pada manusia berhasil, SII berharap bisa membawanya ke pasar pada Oktober.

Perusahaan yang berbasis di Kota Pune, Maharashtra, India, ini telah bermitra dengan Universitas Oxford sebagai salah satu dari tujuh lembaga global yang memproduksi vaksin. "Tim kami telah bekerja sama dengan Dr Hill dari Universitas Oxford," kata CEO Serum Institute India (SII) Adar Poonawalla, dikutip dari BBC pada Senin (27/4).

"Kami mengharapkan untuk memulai produksi vaksin dalam 2-3 pekan dan menghasilkan 5 juta dosis per bulan selama 6 bulan pertama. Setelah itu, kami berharap dapat meningkatkan produksi hingga 10 juta dosis per bulan," lanjutnya.

Sebelum memproduksi secara massal, perusahaan ini juga berencana memulai uji coba vaksin di India sesuai dengan aturan yang berlaku. "Dengan mengingat situasi saat ini, kami telah mendanai upaya ini dengan kapasitas pribadi dan mudah-mudahan didukung oleh mitra lain untuk meningkatkan produksi vaksin lebih lanjut," kata Poonawalla.


SII menyatakan siap untuk memproduksi vaksin tidak hanya untuk India tetapi juga seluruh dunia. Bahkan, menurut Poonawalla, SII tidak akan mematenkan vaksin atau apa pun yang dikembangkan terkait COVID-19. "Saya berharap bahwa perusahaan mana pun yang mengembangkan vaksin tidak mematenkannya dan membuatnya tersedia berdasarkan royalti atau kesepakatan komersial sehingga produsen di seluruh dunia bisa membuat miliaran dosis dengan cepat," imbuhnya.

Sementara itu, WHO mengimbau pada seluruh masyarakat dunia untuk tetap berhati-hati terhadap virus ini hingga vaksinnya ditemukan. Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan mengklaim bahwa virus ini masih akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya.

Hal tersebut lantaran sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. "Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," tuturnya, dalam pernyataan resminya pada Rabu (22/4) lalu.

Saat ini, terdapat lebih dari 2,9 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus tersebut telah melampaui angka 207 ribu jiwa, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 881,561.

Pandemi corona sendiri telah memicu tidak hanya keadaan darurat kesehatan, tetapi juga kemunduran ekonomi global, dengan bisnis-bisnis yang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan banyak korban lainnya menghadapi kelaparan.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait