Trump Kritik Balik Mantan Menhan Usai Disindir Ingin Memecah Belah AS
Dunia

Sebelumnya, mantan Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, mengecam ancaman Trump yang mengerahkan militer dalam menghadapi unjuk rasa anti-rasisme akibat kematian George Floyd.

WowKeren - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengkritik mantan menteri pertahanan Jim Mattis terkait penanganan aksi protes rasisme yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di sejumlah negara bagian AS. Trump menyebut Mattis sebagai seorang jenderal (purnawirawan) yang terlalu berlebihan di dunia, dan tidak memiliki kewibawaan militer. Trump bahkan merasa sangat senang karena berperan dalam pemecatan Jim Mattis.

"Mungkin satu-satunya kesamaan yang dimiliki Barack Obama dan saya adalah bahwa kami berdua mendapat kehormatan memecat Jim Mattis, Jenderal yang paling berlebihan di dunia. Saya meminta surat pengunduran dirinya dan merasa senang karenanya. Julukannya adalah Chaos dan saya tidak menyukainya, kemudian berubah menjadi 'Mad Dog'," ujar Trump dalam cuitannya di Twitter.

"Kekuatan utamanya bukan militer, melainkan hubungan pribadi dengan publik. Saya tidak suka gaya kepemimpinannya atau hal lain tentang dia, dan banyak orang yang setuju. Saya senang dia sudah pergi," kata Trump menambahkan.

Cuitan Trump ini muncul setelah Jim Mattis secara terang-terangan mengkritiknya sebagai sosok yang memecah belah Amerika Serikat. Dalam pernyatannya, Jim Mattis mengecam ancaman penggunaan militer dalam menghadapi unjuk rasa.


"Donald Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak mencoba menyatukan masyarakat Amerika, bahkan tidak mencoba berpura-pura melakukannya," tulis Mattis dalam pernyataan yang dipublikasi The Atlantic pada Kamis (4/6).

"Dia justru mencoba memecah belah kami, saat kami sedang menyaksikan konsekuensi upaya tiga tahun," lanjut menteri yang mengundurkan diri pada tahun 2018 tersebut.

Pensiunan berpangkat jenderal marinir itu sebelumnya sempat mengatakan tidak pantas baginya untuk mengkritik presiden yang menjabat dan sempat menjadi atasannya. Namun belakangan Mattis menekankan jika sejatinya warga AS bisa bersatu tanpa pengaruh Trump. "Kita bisa bersatu tanpa dia (Trump)," ujarnya. "Memiliterisasi respons kami, seperti yang kami saksikan di Washington DC, membentuk konflik yang palsu, antara militer dan masyarakat sipil," imbuh Mattis lagi.

Seperti yang diketahui, warga Amerika marah akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.

Trump lantas mengancam akan mengerahkan pasukan aktif bahkan di negara bagian yang menentang penggunaan militer. Ancaman ini memicu peringatan dari militer dan Kongres. Salah satu petinggi Partai Republik bahkan memperingatkan hal itu dapat membuat tentara menjadi pion politik.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait