Twitter Nonaktifkan Video Penghargaan Trump untuk George Floyd Karena Masalah Hak Cipta
Getty Images
Dunia

Video itu menampilkan rangkaian foto dan aksi protes yang digelar hingga kekerasan terjadi pascakematian Floyd. Menurut Twitter, terdapat sejumlah keluhan yang mereka terima hingga harus menonaktifkan klip itu.

WowKeren - Pihak Twitter baru saja menonaktifkan video Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang bertujuan memberi penghargaan kepada mendiang George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat kekerasan polisi Minneapolis. Video tersebut menampilkan rangkaian foto dan video aksi protes yang digelar hingga kekerasan terjadi pascakematian Floyd.

Dilansir dari The Jakarta Post pada Sabtu (6/6), Twitter mengatakan video yang dibagikan Trump melalui platform jejaring sosial tersebut memiliki masalah hak cipta. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah keluhan yang valid dan diterima oleh perusahaan sehingga langkah untuk menonaktifkan klip tersebut harus dilakukan.

"Kami menanggapi keluhan hak cipta yang valid yang dikirimkan kepada kami oleh pemilik hak cipta atau perwakilan resmi mereka," ujar perwakilan Twitter dalam sebuah pernyataan pada Jumat (5/6) waktu setempat.

Video berdurasi 45 detik pertama kali diunggah di YouTube dan kemudian juga dibagikan melalui Twitter oleh tim kampanye Trump. Hingga saat ini, video tersebut masih ada di platform YouTube. Hingga saat ini, YouTube belum memberi komentar terkait isu hak cipta.



Sementara itu, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

Kematian Floyd juga kembali membuka luka lama akan rasialisme yang dirasakan oleh banyak warga Afrika-Amerika, khususnya terkait pembunuhan dan tindakan sewenang-wenang oleh polisi, seperti pembunuhan Michael Brown pada Agustus 2014 di Ferguson, Missouri, dan Eric Garner pada Juli 2014 di New York. Aksi protes untuk menuntut keadilan bagi Floyd menyebar di 140 kota di seluruh AS pada akhir pekan lalu, dan banyak berujung kerusuhan.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait