Trump Tuai Kontroversi Usai Sebut Nama George Floyd Saat Singgung Jumlah Pengangguran di AS
Getty Images
Dunia

Trump turut menyeret nama mendiang George Floyd ketika membanggakan tentang kemajuan ekonomi AS dan penurunan tingkat pengangguran di tengah hantaman pandemi virus corona.

WowKeren - Presiden AS Donald Trump kembali menuai kontroversi lantaran menyebut nama mendiang George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat kekerasan polisi Minneapolis, ketika mengumumkan perihal keberhasilannya dalam menurunkan angka pengangguran di Amerika Serikat.

"Kita semua melihat apa yang terjadi minggu lalu. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Mudah-mudahan George (Floyd) melihat ke bawah dan mengatakan ini adalah hal hebat yang terjadi untuk negara kita. (Ini) hari yang hebat baginya," tutur Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, sebagaimana dikutip dari CNN pada Sabtu (6/6).

Trump membanggakan tentang kemajuan ekonomi AS di tengah hantaman pandemi virus corona (COVID-19). Ia mengklaim bahwa tingkat pengangguran turun dari 14,7%, yang merupakan tingkat terburuk sejak 1948, menjadi 13,3%.

Kendati angka tersebut masih mencerminkan tingkat pengangguran yang sangat besar di AS, namun fakta itu menepis prediksi para ekonom yang telah memperkirakan tingkat pengangguran di Amerika menjadi lebih buruk dan naik menjadi hampir 20% pada bulan Mei lalu.


Sementara itu, sebagai informasi tambahan, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.

Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.

Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait