Trump Keluarkan Surat Perintah untuk Kurangi Kekerasan Polisi dan Janji Beri Senjata Lebih Canggih
Getty Images
Dunia

Surat perintah itu diteken oleh Trump setelah demonstrasi besar-besaran terkait kematian sejumlah warga kulit hitam di tangan aparat kepolisian dalam beberapa waktu terakhir.

WowKeren - Presiden AS Donald Trump menandatangani surat perintah berisi beberapa langkah untuk mengurangi kekerasan polisi pada Selasa (16/6) waktu setempat. Surat perintah itu diteken setelah demonstrasi besar-besaran terkait kematian sejumlah warga kulit hitam di tangan aparat kepolisian dalam beberapa waktu terakhir.

Trump menandatangani surat perintah tersebut dalam upacara di area Rose Garden di Gedung Putih yang dihadiri polisi dan anggota Kongres dari Partai Republik. Dilaporkan bahwa surat perintah tersebut mencakup larangan mencekik, teknik seperti yang dilakukan personel kepolisian saat menahan George Floyd sebelum tewas.

"Sebagai bagian dari proses baru ini, mencekik leher akan dilarang kecuali jika nyawa petugas terancam," ujar Trump, sebagaimana dilansir dari CNN. "Selain itu, kami juga akan mencari senjata lebih canggih dan kuat, tapi lebih tak mematikan untuk mencegah interaksi mematikan."

Surat perintah itu juga meliputi pelatihan mengenai panduan menggunakan kekuatan, rekrutmen lebih baik, juga berbagi data polisi yang punya rekam jejak buruk. Selain itu, Presiden berusia 74 tahun tersebut juga memerintahkan pemberian insentif untuk polisi yang berkewajiban kerja berkaitan dengan orang-orang dengan masalah mental atau narkoba.

Gelombang demonstrasi besar-besaran dan gerakan anti-rasisme Black Lives Matter memang melanda Amerika Serikat dalam beberapa waktu belakangan akibat kematian sejumlah warga kulit hitam di tangan polisi kulit putih.

Demonstrasi ini dipicu akibat kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam yang tewas akibat ulah polisi kulit putih Minneapolis. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.


Kematian Floyd dinilai menjadi puncak amarah warga Amerika terkait diskriminasi dan sikap rasisme yang sistematis, terutama terhadap perlakuan aparat kepada warga kulit hitam dan minoritas.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

Belum mereda demonstrasi akibat kematian Floyd, pekan lalu seorang warga kulit hitam lainnya yakni Rayshard Brooks juga ditemukan tewas usai ditembak oleh polisi di Atlanta, Georgia.

Insiden penembakan Brooks ini terjadi pada Jumat (12/6) lalu ketika polisi berupaya menangkap Brooks di sebuah restoran cepat saji Wendy's di Atlanta. Awalnya, karyawan Wendy's melaporkan kepada pihak berwenang bahwa ada pria yang tertidur di dalam mobil di jalur drive-thru restoran. Pria tersebut adalah Brooks.

Biro Investigasi Georgia (GBI) menuturkan aparat lalu bergegas menuju lokasi dan mendapati Brooks tengah terlelap di dalam mobilnya. Polisi lalu melakukan tes kesadaran diri terhadap Brooks.

Brooks dinyatakan mabuk dan menolak untuk ditangkap hingga terlibat perkelahian. Brooks berhasil lolos dan mencoba kabur sambil membawa alat kejut listrik atau taser yang dipegang salah satu petugas. Belum jauh kabur, salah satu petugas yang mencoba menangkapnya melontarkan tembakan sebanyak tiga kali ke arah Brooks.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait