Ngotot Tak Mau Lockdown AS Lagi, Trump Minta Gubernur Negara Bagian Ikuti 'Aturan Main' Gedung Putih
Dunia

Presiden berusia 74 tahun tersebut menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi menghentikan kegiatan ekonomi di bawah aturan karantina wilayah alias lockdown.

WowKeren - Kasus corona di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan di sejumlah negara bagian. Kendati demikian, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negaranya tidak akan lagi menghentikan kegiatan ekonomi di bawah aturan karantina wilayah alias lockdown.

Bukan hanya itu, Presiden berusia 74 tahun ini bahkan bersikeras AS tak perlu melakukan lockdown apapun yang terjadi. "Kami tak akan menutup negara ini lagi. Kami tak harus melakukannya," kata Trump dalam sebuah wawancara bersama Fox News.

Pernyataan Trump tersebut keluar setelah penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin menyatakan hal yang sama. Sementara itu, sebelumnya Trump dan Wakil Presiden Mike Pence bahkan dilaporkan mendorong para gubernur negara bagian untuk menyatakan bahwa lonjakan jumlah kasus baru COVID-19 terjadi karena jumlah pengujian yang meningkat, sebagaimana klaim pemerintah pusat.

Akan tetapi, analis justru mengklaim bahwa kasus positif COVID-19 di AS justru melampaui angka pengujian rata-rata yang dilakukan pemerintah, setidaknya di 14 negara bagian.


Di sisi lain, tingginya kasus membuat AS terancam menghadapi gelombang dua pandemi virus corona akibat unjuk rasa massal yang dipicu kematian George Floyd. Seperti yang diketahui, warga Amerika marah akibat kematian Floyd, seorang pria kulit hitam yang tewas seorang perwira kulit putih menekan lututnya ke leher Floyd selama beberapa menit. Mereka turun ke jalan dan menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut keadilan.

Pakar medis AS Jerome Adams menyebut bahwa gerakan demonstrasi ini membuat ribuan orang yang turun ke jalan berpotensi terpapar virus corona. "Saya khawatir terhadap konsekuensi kesehatan masyarakat, baik individu dan institusi serta orang-orang yang protes dengan cara yang berbahaya bagi diri mereka sendiri dan bagi kelompok mereka," kata Adams.

Demo anti-rasisme yang bertentangan dengan imbauan jaga jarak fisik ini berpotensi menjadi klaster baru penularan COVID-19. "Berdasarkan cara penyebaran penyakit, selalu ada alasan terjadi klaster baru dan potensi wabah baru," ujarnya menambahkan.

Sementara itu, kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di AS telah menyentuh angka lebih dari 2,2 juta, dengan sebanyak 120 ribu korban tewas yang dilaporkan. Tercatat ada 929,756 warga yang sembuh dari virus ini, sehingga saat ini masih ada lebih dari 1,2 juta kasus aktif COVID-19 di AS.

Sedangkan secara global pandemi virus corona telah menginfeksi lebih dari 8,5 juta jiwa di seluruh dunia. Angka kematian akibat virus ini mencapai lebih dari 455 ribu, dan pasien sembuh menyentuh angka 4,5 juta jiwa. Saat ini, kasus aktif COVID-19 dilaporkan mencapai 3,602,277 pasien.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait