Badan pelacak penerbangan Aircratft Spots melaporkan bahwa pesawat mata-mata itu berjenis RC-135W Rivet Joint, yang merupakan milik Angkatan Udara Amerika Serikat.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 20 Juni 2020 - 08:29 WIB
WowKeren - Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan pesawat pengintainya yang terbang di atas Korea Selatan pada Kamis (18/6), di tengah merenggangnya hubungan antar-Korea dalam beberapa waktu terakhir. Badan pelacak penerbangan Aircratft Spots melaporkan pesawat mata-mata itu berjenis RC-135W Rivet Joint milik Angkatan Udara AS.
Dilansir CNN pada Sabtu (20/6), sumber militer Korsel juga menuturkan pasukan angkatan laut AS EP-3E dan pasukan AS di Korsel RC-12X juga baru-baru ini terlihat menerbangkan pesawatnya di wilayah Semenanjung Korea.
Pesawat-pesawat AS itu dikerahkan ke Semenanjung Korea beberapa hari setelah Korut dan Korsel kembali bersitegang. Dilaporkan bahwa sejumlah sumber militer Korsel melihat beberapa tentara Korut telah ditempatkan di beberapa pos penjagaan di area DMZ.
Korut diperkirakan memiliki lebih dari 150 pos penjagaan di perbatasan. Sebelum ketegangan memanas, pos-pos tersebut dikosongkan oleh Korut berdasarkan kesepakatannya dengan Korsel.
Beberapa media lokal Korsel juga melaporkan bahwa sekitar 100 tentara Korut terlihat berjaga di area kompleks industri Kaesong dan Gunung Kumgang tak lama setelah peledakan kantor penghubung inter-Korea terjadi. Pengerahan tentara ini dilakukan sehari setelah Jenderal Staf Gabungan Tentara Rakyat Korea Utara menegaskan akan segera mendirikan pos polisi sipil sebagai langkah melawan Korsel.
Sementara itu, ketegangan Korut dan Korsel ini dipicu oleh tindakan Pyongyang yang meledakkan kantor penghubung inter-Korea di perbatasan. Korut meledakkan kantor penghubung dengan Korea Selatan di kota perbatasan Kaesong pada Selasa (16/6). Penghancuran kantor itu dilakukan Pyongyang lantaran merasa tak puas dengan Seoul karena tak bisa menghentikan para aktivisnya di perbatasan.
Presiden Korut Kim Jong Un geram dengan ulah aktivis Korsel yang kerap mengirimkan selebaran propaganda anti-Korut ke perbatasannya. Diketahui, sebagian dari aktivis Korsel itu merupakan pembelot dari Korut. Langkah itu dianggap Pyongyang membahayakan negaranya.
Akibat hal itu, adik Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Partai Buruh yang berkuasa, yakni Kim Yo Jong, sempat melontarkan kritik kepada Presiden Moon Jae-in. Dia menyebut Moon telah gagal mengimplementasikan salah satu dari pakta perjanjian 2018. Dia juga mengatakan bahwa Moon telah dan menempatkan lehernya ke dalam jerat pendukung Amerika.
Sebelum meledakkan kantor penghubung, Korut pun telah melontarkan sejumlah ancaman terhadap Korsel. Belum lama ini, Pyongyang menyatakan telah memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Seoul akibat insiden selebaran propaganda tersebut.
Korut juga telah menolak tawaran pihak Korea Selatan untuk mengirim utusan khusus guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Bukan hanya itu, pemerintahan presiden Kim Jong Un tersebut lantas mengaku akan memindahkan pasukan ke daerah-daerah perbatasan kedua negara.
Penolakan itu membawa kemunduran besar pada upaya Presiden Korsel Moon Jae-in untuk menjalin rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korut. Langkah itu juga mempersulit upaya untuk membujuk Korut untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.
(wk/luth)