Kampanye pemilu yang digelar Trump di Tusla ini awalnya ditargetkan dihadiri oleh 100 ribu orang. Namun, faktanya di lapangan, massa yang turun tak lebih dari 19 ribu orang.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 22 Juni 2020 - 09:42 WIB
WowKeren - Kampanye pemilihan umum Presiden Donald Trump di Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat, berlangsung sepi. Pasalnya, dari target 100 ribu pendukung, massa yang datang justru tak lebih dari 19 ribu orang.
Terkait sepinya kampanye Trump ini, Mercedes Schlapp selaku pembantu kampanye senior Trump mengatakan bahwa para peserta tidak dapat masuk ke BOK Center, tempat kampanye berlangsung. Bukan hanya itu, Schlapp bahkan menyalahkan para pengunjuk rasa yang membuat peserta khawatir untuk datang ke kampanye Trump.
"Ada beberapa faktor yang terlibat, seperti mereka mengkhawatirkan para pemrotes yang datang. Ada pemrotes yang memblokir (peserta)," kata Schlapp, sebagaimana dikutip dari CNN pada Senin (22/6). "Jadi kami melihat bahwa ada dampak dalam hal orang yang datang ke rapat umum."
Dalam lanjutan keterangannya, Schlapp mengatakan ada keluarga yang tidak bisa membawa anak-anak mereka, bahkan tak jadi datang karena khawatir oleh demonstran. Ia juga menyebut para demonstran bahkan memblokir akses di pintu metal detector yang membuat para peserta tidak bisa masuk ke dalam.
"Para pemrotes bahkan memblokir akses ke detektor logam, yang mencegah orang untuk masuk," tuding Schlapp. Namun seakan berbanding terbalik dengan klaim Schlapp, wartawan di lapangan mengatakan mereka tidak melihat masalah bagi pendukung yang mencoba masuk ke lokasi kampanye.
Di sisi lain, aksi Trump yang tetap menggelar kampanye di Tusla ini sebenarnya menimbulkan kontroversi di kalangan publik. Sejumlah pihak khawatir pengumpulan massa bisa meningkatkan risiko penularan virus corona (COVID-19) yang terus mengalami kenaikan signifikan.
Bahkan Direktur Departemen Kesehatan Tulsa, Bruce Dart, juga mendesak Trump menunda kampanye tersebut karena berisiko tinggi menjadi klaster baru penularan virus corona. "Saya khawatir dengan kemampuan kami untuk melindungi siapa saja yang menghadiri acara besar di dalam ruangan. dan saya khawatir apakah kami juga bisa memastikan presiden tetap aman juga," kata Dart.
Dart menekankan adalah suatu kehormatan bagi warga Tulsa ketika seorang Presiden ingin mengunjungi kota dan bertemu dengan warga. Akan tetapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggelar kampanye dengan puluhan ribu orang yang melanggar aturan jaga jarak.
"Tapi tidak selama masa pandemi ini. Saya berharap kita bisa menunda acara ini ke waktu ketika virus sudah tidak menjadi masalah besar seperti hari ini," papar Dart.
Namun Presiden berusia 74 tahun itu bahkan tak menggubris masukan ahli kesehatan dan media Oklahoma soal protokol kesehatan semasa kampanye. Bukan hanya itu saja, dalam kicauannya di Twitter pekan lalu, Trump bahkan mengklaim bahwa hampir satu juta orang ingin mengikuti kampanyenya di Tulsa.
(wk/luth)