Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam para demonstran 'anarkis' di Washington DC yang berniat merobohkan patung Andrew Jackson. Trump bahkan tak segan untuk melakukan tindak kekerasan untuk itu.
- Nidya Putri
- Rabu, 24 Juni 2020 - 12:30 WIB
WowKeren - Sekelompok demonstran mencoba merobohkan patung presiden ketujuh Amerika Serikat di dekat Gedung Putih, Washington DC, Senin (22/6) lalu. Aksi tersebut merupakan buntut dari seruan keadilan rasial telah melanda Amerika Serikat (AS) sejak kematian George Floyd pada 25 Mei, seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun yang dibunuh oleh seorang polisi kulit putih di Minneapolis, Minnesota.
Presiden AS Donald Trump pun melontarkan ancaman untuk para demonstran di Washington DC. Trump bersumpah akan memakai kekerasan jika para demonstran berupaya menciptakan 'zona otonomi' bebas polisi di ibu kota AS tersebut.
Ancaman tersebut disampaikan Trump dalam cuitan Twitter terbarunya. Trump juga mengancam akan memberlakukan hukuman penjara yang berat bagi para 'anarkis' yang merusak monumen nasional saat berunjuk rasa.
"Saya telah memberikan wewenang terhadap Pemerintah Federal untuk menangkap siapa saja yang melakukan vandalisme atau merusak monumen apapun, patung apapun, atau properti Federal lainnya semacam itu di AS, dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara," cuit Trump seperti dikutip AFP. "Tidak akan pernah ada 'Zona Otonomi' di Washington DC, selama saya menjadi Presiden Anda. Jika mereka mencoba (menciptakan Zona Otonomi), mereka akan berhadapan dengan kekuatan serius."
Persoalan 'zona otonomi' sendiri bermula sejak dua pekan lalu oleh para demonstran di Seattle, negara bagian Washington. Zona otonomi itu dibangun di sepanjang enam blok setelah seseorang ditembak mati pada Sabtu (20/6) lalu.
Terkait kerusuhan demonstran di Washington DC berusaha diredakan oleh polisi dengan menggunakan semprotan merica. Para demonstran tersebut dilaporkan akan merobohkan patung Presiden ke-7 AS, Andrew Jackson, yang berdiri di Taman Lafayette, dekat Gedung Putih.
Patung itu menjadi target karena riwayat Jackson sebagai pemilik budak dan kebijakan brutalnya terhadap warga pribumi AS. Meski polisi berhasil membubarkan demonstran dengan tongkat pemukul dan semprotan merica, namun patung Andrew Jackson sudah penuh coretan slogan dan berbagai julukan.
(wk/nidy)