Harimau Sumatera Mati di Perkebunan Aceh, Terdapat Pendarahan Diduga Keracunan
Pixabay
SerbaSerbi

Seekor harimau betina ditemukan tak bernyawa di kawasan perkebunan warga di Aceh. Kematian tragis harimau sumatera yang langka ini diduga karena keracunan zat semacam insektisida.

WowKeren - Harimau Sumatera yang ditemukan mati di kawasan perkebunan warga di Desa Kapa Seusak, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, diduga mati akibat keracunan. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil pembedahan terhadap bangkai harimau.

Nekropsi atau pembedahan terhadap bangkai harimau betina tersebut dilakukan oleh tim dokter hewan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, FKL, PKSL-FKH Unsyiah, WCS-IP. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah keracunan yang dialami oleh harimau betina ini dilakukan secara senagaja atau tidak.


"Penyelidikan ini untuk mengetahui harimau Sumatera tersebut diracun karena unsur kesengajaan atau tidak," kata Agus Arianto dilansir dari Antara dalam Indozone, Rabu (1/7). "Jika ada unsur kesengajaan, tentu ada pihak yang terlibat."

Harimau tersebut diduga telah mati pada Senin (29/6). Oleh karena itu, kondisi bangkainya sudah mengalami pembusukan. Ada pendarahan dari lubang hidung dan bulu gampang rontok, jaringan bawah kulit sebagian memar.

Kemudian, ada luka diduga akibat kawat duri di bagian perut. Lidah sebagian tampak berwarna kebiruan karena kurangnya oksigen dalam darah (mengalami sianosis). Saluran pencernaan dan lambung juga mengalami pendarahan.

"Ada ditemukan zat diduga racun insektisida pada kulit kambing yang sebelumnya dimangsa harimau tersebut," ujar Agus. "Hasil nekropsi disimpulkan bahwa kematian harimau diduga karena keracunan."

Pihak BKSDA juga mengambil bebrapa organ vital dari harimau betina tersebut, seperti hati, jantung serta organ vital harimau lainnya termasuk isi lambung. Hal ini dilakukan agar proses pemeriksaan bisa lebih jelas hasilnya.

Agus Arianto menegaskan harimau sumatera merupakan satwa dilindungi. Satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera tersebut masuk dalam spesies terancam dan berisiko tinggi punah di alam liar.

"Kami mengajak masyarakat menjaga kelestarian harimau Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat alami mereka," tandasnya. "Serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa dilindungi tersebut."

(wk/lara)

You can share this post!

Related Posts