Beredar Kabar Virus Corona Mudah Menyebar Karena Bermutasi, Ini Faktanya
Health
COVID-19 di Indonesia

Dalam sebuah pesan berantai di WhatsApp menyebutkan jika virus corona telah bermutasi dan membuatnya menyebar lebih cepat. Mutasi yang dimaksud ialah perubahan protein D ke protein G pada spike atau paku virus corona.

WowKeren - Sebuah pesan berantai di aplikasi WhatsApp terkait virus corona telah bermutasi dan membuatnya menyebar lebih cepat beredar pada Kamis (2/7). Dalam pesan tersebut menyebut bahwa mutasi disebabkan oleh perubahan protein D ke protein G pada spike atau paku virus corona.

Di akhir pesan, si pembuat mempertanyakan apakah ada penelitian soal mutasi tersebut di Indonesia. "Mendapat kabar dari seorang teman di Amerika. Menurut info virus saat ini telah bermutasi dr D ke G protein spike," isi pesan tersebut.


Krn D sulit mengikat ACE, virus bermutasi menjadi G protein spine yg lbh efektif, hingga virus menjadi lbh tinggi / lebih cepat daya sebar nya, menjadi lbh contagious," lanjutan isi pesan WhatsApp. "Apakah di Indonesia sdh dilakukan penelitian mengenai hal ini?"

Terkait kebenaran isi pesan tersebut, studi terbaru memang menemukan bahwa virus penyebab penyakit COVID-19 telah bermutasi. Hal ini disampaikan dalam laporan riset yang dilakukan The Scripps Research Institute, Florida, Amerika Serikat pada Juni 2020 dengan judul 'The D614G mutation in the SARS-CoV-2 spike protein reduces S1 shedding and increases infectivity'.

Sebagai catatan, laporan mereka belum melalui tahap peer-review atau diulas oleh sejawat peneliti lain. Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menemukan bahwa salah satu asam amino di dalam 'paku' atau permukaan virus corona telah mengalami perubahan.

Mutasi tersebut kemudian diberi nama D614G oleh peneliti, yang merujuk pada jenis asam amino yang berubah dan di mana letak mutasi itu terjadi. Setidaknya ada 1.300 asam amino yang ada di protein paku virus corona.

Paku virus corona sendiri dibagi menjadi dua domain, yang dikategorikan dengan S1 dan S2, yang keduanya punya fungsi yang berbeda. "Domain S1 memediasi pengikatan reseptor, dan S2 memediasi fusi membran hilir," jelas peneliti.

Mereka menemukan bahwa asam amino ke-614 yang berada di domain S1 protein paku virus corona telah mengalami perubahan. Sebelumnya, asam amino 614 itu memiliki varian bernama asam aspartat (aspartic acid), yang diberi kode 'D'. Setelah bermutasi, asam amino 614 itu memiliki varian glisina (glycine), dengan kode 'G'.

Perubahan ini terlihat sepele, tapi memberikan dampak yang masif dalam persebaran virus corona. Sebab, lokasi terjadinya mutasi berada pada domain yang penting yang berguna bagi virus corona untuk memasuki sel manusia yang mengandung angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2).

Menurut observasi dan pengujian yang dilakukan peneliti, asam amino glisina bisa membuat protein yang menonjol pada permukaan virus corona lebih stabil, membuat virus lebih mudah menular. "Kami menunjukkan bahwa mutasi protein S yang menghasilkan SARS-CoV-2 yang lebih menular juga membatasi pelepasan domain S1 dan meningkatkan penggabungan S-protein ke dalam virion," jelas ilmuwan.

Menurut penulis utama penelitian ini Hyeryun Choe, mutasi virus corona itu tak membuat pasien jadi semakin sakit. Ia juga menyebutkan bahwa mutasi itu juga tak akan mengubah respons virus terhadap antibodi pasien dengan varian D, sehingga perkembangan vaksin yang dibuat berdasarkan virus corona yang lebih lama masih relevan.

Adapun mutasi D ke G dalam protein paku virus corona telah meningkat proporsinya dari waktu ke waktu. Tim peneliti mencatat, genotipe G614 tidak terdeteksi dalam sequences atau urutan virus corona pada Februari 2020.

Tetapi kemudian muncul pada frekuensi rendah pada Maret 2020 (26%), dan meningkat dengan cepat pada April 2020 (65%) dan Mei 2020 (70%). Sebagai catatan, peneliti mengambil data dari 2.544 analisis sequences virus corona hingga Mei 2020.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts