Korban Konspirasi, 10 Ribu Warga Australia Ogah Dites Corona dan Berujung Lockdown 6 Minggu
Dunia
Pandemi Virus Corona

Lebih dari 10 ribu warga Melbourne, Australia enggan menjalani tes COVID-19 karena menganggap penyakit itu sekadar konspirasi. Padahal saat ini Melbourne sampai di-lockdown karena laju penularan yang tinggi.

WowKeren - Australia tengah dihadapkan pada wabah virus Corona yang menginfeksi semakin banyak orang. Namun baru-baru ini sekitar 10 ribu warga Melbourne justru menolak menjalani tes pemeriksaan COVID-19.

Dilaporkan South China Morning Post, otoritas dan pejabat negara itu bahkan sampai memohon kepada masyarakat agar berkenan menjalani tes yang digelar pada Jumat (3/7) kemarin. Namun yang sangat menyita perhatian, ternyata puluhan ribu warga ini enggan menjalani tes diduga karena terpengaruhi oleh berbagai teori konspirasi yang saat ini sedang beredar di tengah pandemi Corona.

"Namun mengecewakan, kami memiliki lebih dari sepuluh ribu yang menolak untuk dites," kata Menteri Kesehatan Australia, Jenny Mikakos, dikutip pada Selasa (7/7). "Laporan yang saya terima adalah bahwa beberapa orang percaya virus Corona adalah konspirasi, atau bahwa itu tidak akan berdampak pada mereka."

"Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa virus Corona adalah virus yang sangat menular. Itu bisa melalui keluarga Anda dengan sangat cepat," imbuh Mikakos.

Mikakos pun menyayangkan sikap para warga tersebut karena menghambat upaya pemerintah untuk menekan laju penyebaran wabah Corona. Padahal saat ini laju penyebaran wabah di Australia begitu tinggi, bahkan dilaporkan menginfeksi sampai 30 ribu orang setiap harinya.


Ditelisik lebih jauh, rupanya memang ada seorang ahli teori konspirasi Australia terkemuka yang membuat klaim palsu soal "alat tes yang terkontaminasi". Klaim palsu ini pun masih berkaitan dengan teori konspirasi soal wabah Corona ada untuk menanamkan microchip buatan Bill Gates lewat vaksin, yang belakangan sudah dibantah.

Di sisi lain pemerintah Australia menerapkan kembali lockdown mulai Selasa (7/7) pukul 23.59 waktu setempat. Kebijakan lockdown yang diberlakukan di Melbourne ini sedianya berjalan selama enam pekan.

Perdana Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews mengumumkan perbatasan antara Victoria dan New South Wales (NSW) akan ditutup untuk pertama kalinya sejak pandemi melanda. Kedua negara bagian ini memang dikenal sebagai bagian yang paling padat di Australia.

Semula sedianya lockdown akan dilakukan selama 5 hari. Namun karena laporan kasus positif COVID-19 meningkat diiringi dengan banyaknya warga yang menolak dites, maka periode lockdown diperpanjang.

"Itu (isolasi) adalah keputusan yang cerdas, keputusan yang tepat untuk saat ini, mengingat tantangan signifikan yang kita hadapi dalam mengatasi virus ini," ujar Andrew seperti dilansir CNN. Untuk menyukseskan lockdown, maka personel militer hingga polisi akan diterjunkan untuk mengamankan perbatasan serta memastikan setiap warga tetap di rumah selama masa isolasi.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts