WHO: Wabah Pes Bubonik di Tiongkok Tak Berisiko Tinggi
Reuters
Health

Wabah bubonik atau yang dikenal sebagai Black Death yang muncul di Mongolia belum lama ini adalah penyakit infeksi menular dan seringkali berakibat fatal yang kebanyakan ditularkan oleh hewan sejenis tikus.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, wabah pes bubonik yang baru-baru ini muncul di Tiongkok bisa ditangani dengan baik. Selain itu WHO tidak menganggapnya cukup untuk disebut mempunyai risiko tinggi.

"Untuk saat ini, kami tidak menganggapnya berisiko tinggi, namun kami mengawasi dan memantau dengan hati-hati," ujar juru bicara WHO, Margaret Harris, dilansir dari Al Jazeera pada Rabu (8/7).

"Kami memantau wabah yang terjadi di Tiongkok, kami mengamatinya secara lekat dalam kerja sama dengan dengan otoritas Tiongkok dan Mongolia," kata Harris menambahkan.

Sebelumnya, Otoritas Kesehatan Tiongkok mengeluarkan peringatan waspada wabah bubonik usai satu kasusnya terkonfirmasi di wilayah otonom Mongolia Dalam. Menurut laporan dari media lokal, pasien yang diduga terinfeksi bubonik itu sudah dikarantina. Pasien yang merupakan penggembala tersebut telah berada dalam kondisi stabil.


Wabah bubonik atau yang dikenal sebagai Black Death adalah penyakit infeksi menular dan seringkali berakibat fatal yang kebanyakan ditularkan oleh hewan sejenis tikus. Wabah tersebut kerap diasosiasikan dengan penyakit pes. Wabah yang diakibatkan infeksi bakteri tersebut cenderung mematikan, namun dapat diobati dengan antibiotik yang tersedia saat ini.

Wabah ini dikenal lewat ciri-ciri pembengkakan di kelenjar getah bening, namun sulit diidentifikasi di fase awal. Biasanya gejala baru muncul tiga hingga tujuh hari usai terinfeksi.

Otoritas Tiongkok kini mengeluarkan peringatan level 3 dalam bidang penyakit menular. Level tersebut merupakan dua terbawah dalam sistem kewabahan di Tiongkok.

Kasus pertama wabah bubonik di Tongkok muncul di sebuah rumah sakit di kota Bayannur di Urad Middle Banner, Mongolia Dalam, pada Sabtu (4/7) lalu. Otoritas Tiongkok tidak menyebutkan bagaimana pengembala tersebut bisa terinfeksi wabah bubonik.

Kasus wabah bubonik secara berkala dilaporkan dari berbagai negara di dunia. Madagaskar pernah mengonfirmasi lebih dari 300 kasus dalam sebuah wabah pada 2017. Mei tahun lalu, dua orang di negara Mongolia meninggal akibat wabah tersebut. Keduanya terinfeksi wabah bubonik usai memakan daging marmut mentah.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts