Keputusan untuk menjadikan Hagia Sophia kembali sebagai masjid merupakan ambisi terpendam kaum Islam konservatif Turki, tak terkecuali Presiden Erdogan
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 16 Juli 2020 - 10:44 WIB
WowKeren - Keputusan pemerintah Turki dan Presiden Erdogan untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid memang masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan publik. Bahkan, Erdogan disebut sengaja mengambil keputusan tersebut sebagai senjata pemilu mendatang.
Direktur Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, M Sya’roni Rofii, mengatakan keputusan menjadikan Hagia Sophia kembali sebagai masjid merupakan ambisi terpendam kaum Islam konservatif Turki, termasuk Erdogan yang merupakan lulusan Imam Hatip High School.
Sya’roni mengatakan selain mewujudkan ambisi pribadi, langkah Erdogan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid juga diduga didorong kepentingan politik untuk mengamankan posisi di pemilihan umum Turki pada 2023 mendatang.
Sebab, saat ini perekonomian Turki terus melemah setelah diguncang pandemi virus corona (COVID-19). Banyak pihak terutama oposisi yang menganggap Erdogan lambat menangani penularan virus corona di Turki yang kini mencapai 214.993 kasus dengan 5.402 kematian.
Dalam banyak kesempatan, Erdogan kerap memuja kekaisaran Ottoman Turki sebagai era kejayaan Turki. Selama periode itu Islam memang begitu kuat dan disegani. Erdogan disebut kerap mengkritik kebijakan peninggalan pendahulunya, Kemal Ataturk, karena dinilai berupaya mempengaruhi Turki dengan nilai-nilai asing melalui pemerintahan yang sekuler.
"Dia (Erdogan) pernah mengatakan bahwa semasa muda dia bermimpi jika kelak menjadi seorang pemimpin, ia akan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid lagi. Jadi, langkah ini bisa dibilang merealisasikan mimpinya (Erdogan) dan kaum Islam konservatif," kata Sya’roni, sebagaimana dilansir dari CNN pada Kamis (16/7).
Erdogan menganggap keputusan pengadilan soal Hagia Sophia pada pekan lalu menandai era sekuler telah berakhir. Sya’roni menuturkan perubahan status Hagia Sophia sebagai masjid juga bisa dilihat sebagai kekalahan kaum sekuler Turki.
Kelompok sekuler Turki, kata Sya’roni, menjadi pihak yang sangat menyayangkan keputusan Erdogan ini. Menurut kaum sekuler, penetapan Hagia Sophia sebagai museum merupakan langkah paling tepat dan netral lantaran bangunan bersejarah itu pernah menjadi tempat beribadah umat Islam dan Kristen.
"Tentu saja keberadaan Hagia Sophia sekarang ini sebagai masjid bisa disebut kekalahan kaum sekuler Turki. Padahal, Hagia Sophia sebagai museum merupakan nilai plus bagi Turki karena bisa menjadi simbol perdamaian dan toleransi," ujar Sya'roni.
Upaya untuk mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai masjid sebenarnya sudah muncul sejak 2010. Namun, di era kepemimpinan Erdogan, upaya perubahan fungsi bangunan era Kekaisaran Byzantium ini semakin gencar dilakukan.
Di sisi lain, pada 10 Juli lalu Erdogan mengeluarkan keputusan terkait memfungsikan kembali Hagia Sophia yang berada di Istanbul sebagai masjid. Pengumuman Erdogan disampaikan setelah Majelis Negara Turki mengumumkan membatalkan keputusan kabinet pada 1934 dan kembali memfungsikan Hagia Sophia menjadi masjid.
Majelis Negara Turki pada 2 Juli lalu menggelar sidang dengar pendapat dengan Asosiasi Perlindungan Monumen Bersejarah dan Lingkungan Turki soal usul untuk kembali memfungsikan Hagia Sophia sebagai masjid. Selama ini, Hagia Sophia memang berstatus menjadi museum sejak beberapa dekade silam.
Keputusan ini menuai kekecewaan dari beberapa negara. Kendati demikian, Erdogan mengatakan warga bisa melakukan ibadah di Hagia Sophia mulai 24 Juli mendatang. Meski begitu, Erdogan memastikan Hagia Sophia tetap terbuka untuk umum.
(wk/luth)