Ilmuwan menduga seperempat cadangan gas metana di bumi ada di Antartika. Kebocoran gas ini membuat ilmuwan khawatir akan berdampak besar pada krisis iklim global
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 24 Juli 2020 - 12:49 WIB
WowKeren - Ilmuwan mengungkapkan adanya kebocoran gas metana di dasar laut Antartika. Gas metana memiliki kemampuan menyerap panas sehingga menjadikannya salah satu gas rumah kaca yang paling kuat di bumi.
Ilmuwan menduga jika seperempat cadangan gas metana di bumi ada di Antartika. Sehingga dengan adanya fenomena kebocoran gas ini, para ilmuwan khawatir jika akan berdampak besar pada krisis iklim global.
Dilansir dari Independent, Jumat (24/7), para penyelam pertama kali menemukan kebocoran ini pada 2011 lalu di sebuah situs bernama Cinder Cones di McMurdo Sound, Laut Ross. Berangkat dari penemuan itu, para penyelam pun melakukan monitoring terhadap mikroba disana. Mikroba ini beradaptasi dengan mengonsumsi gas metana di sana.
Hal ini akan mampu mengurangi jumlah gas metana yang lepas. Namun rupanya, respons mikroba terhadap kebocoran itu cukup lambat. Untuk beradaptasi dan membatasi pelepasan metana dari dasar laut Antartika, mikroba itu memerlukan waktu sekitar 5 tahun.
Usai kebocoran itu, ditemukan kebocoran lagi lima tahun setelahnya, 2016. Lokasinya tak jauh dari kebocoran yang pertama. Penyebab terjadinya rembesan ini pun belum diketahui.
Kendati demikian, para ilmuwan yakin jika hal ini berhubungan dengan perubahan iklim. Itu lah yang dikatakan oleh tim ahli yang dipimpin oleh Andrew Thurber dari Oregon State University.
"Meskipun situs terletak pada samping vulkano aktif," kata mereka dalam laporan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B masih dilansir Independent. "Analisis isotop stabil mengidentfiikasikan bahwa metana diproduksi oleh methanogenic archaea (mikroorganisme anaerobik) yang mendegradasikan sebuah sumber karbon organik."
Untuk itu, para ilmuwan memperingatkan kemungkinan adanya kebocoran gas lain selain di kedua titik ini. Kendati demikian, ada hal menarik yang didapatkan dari penemuan itu, terutama soal pemanasan global dan kaitannya dengan keberadaan mikroba.
"Hasil kami menunjukkan bahwa akurasi permodelan iklim global masa depan bisa ditingkatkan," tulis mereka. "Dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh komunitas mikroba untuk merespons input metana baru."
(wk/zodi)