Israel Klaim Bakal Teliti Sputnik V dari Rusia Meski Sedang Kembangkan Vaksin COVID-19 Sendiri
AP
Health
Vaksin COVID-19

Israel sedang mengembangkan calon vaksin sendiri dan berencana memulai uji klinis pada manusia secepatnya pada Oktober. Mereka meneken kontrak dengan dua produsen obat untuk mengembangkan vaksin.

WowKeren - Israel mengatakan akan meneliti vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, meski mereka tengah mengembangkan vaksin sendiri. Diketahui, Rusia mengklaim bahwa vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan telah didaftarkan dan siap digunakan. Vaksin hasil pengembangan Rusia ini diklaim cukup efektif dan membentuk kekebalan.

"Kami mengikuti secara cermat setiap laporan, tak peduli dari negara mana saja. Kami sudah mendiskusikan laporan dari pusat riset di Rusia soal pengembangan vaksin," kata Menteri Kesehatan Israel, Yuli Edelstein.

"Jika kami yakin ini adalah produk serius, kami juga akan berupaya melakukan negosiasi. Tetapi saya tidak ingin menipu siapa pun. Staf profesional kementerian sedang mengerjakan ini sepanjang waktu. Vaksin tidak akan tiba besok," imbuhnya.

Israel sedang mengembangkan calon vaksinnya sendiri dan berencana memulai uji klinis pada manusia secepatnya pada Oktober. Pihaknya juga meneken kontrak dengan produsen obat Moderna dan Arcturus Therapeutics sebagai opsi pembelian calon vaksin mereka.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan vaksin tersebut telah menjalani serangkaian pengujian yang tepat dan aman. Putin menyatakan penggunaan vaksin Sputnik V sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Kesehatan Rusia. Bahkan Putin mengklaim putrinya menjadi relawan dalam uji klinis vaksin.


"Dalam hal ini, dia ikut dalam percobaan. Setelah vaksinasi pertama, dia memiliki suhu tubuh 38 derajat celcius, sedangkan hari berikutnya sedikit di atas 37 derajat celcius. Setelah suntikan kedua, vaksinasi kedua, suhunya juga naik sedikit, lalu semuanya beres, dia merasa baik dan titer (antibodi) tinggi," ucapnya.

"Saya ingin menegaskan bahwa ini telah lulus semua tes yang diperlukan. Yang paling penting adalah memastikan keamanan penuh penggunaan vaksin dan efektivitasnya," tegasnya.

Direktur Institut Gamaleya, Alexander Gintsburg, menyampaikan bahwa uji klinis akan diterbitkan setelah dinilai oleh para ahli Rusia sendiri. Dia mengatakan Rusia berencana untuk dapat memproduksi 5 juta dosis sebulan pada Desember-Januari.

Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan belum bisa memberi jaminan bagi vaksin COVID-19 Sputnik V yang diproduksi oleh Rusia lantaran menurut mereka vaksin tersebut masih harus melewati tahap prakualifikasi. "Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan prakualifikasi vaksin WHO," demikian kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic.

"Tetapi sekali lagi prakualifikasi vaksin apa pun mencakup tinjauan dan penilaian yang cermat dari semua data keamanan dan kemanjuran yang diperlukan," lanjut Tarik Jasarevic.

Menurut standar dunia, uji klinis tahap tiga sebuah vaksin harus melibatkan sekitar 10 ribu orang dan memakan waktu berbulan-bulan. Tahap itu juga dinilai menjadi satu-satunya tahapan eksperimen untuk menguji apakah vaksin itu aman dan manjur. Sebagai perbandingan, uji tahap akhir vaksin di Amerika Serikat mewajibkan untuk diuji coba kepada 30 ribu relawan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts