Warga Mauritius Sumbang Rambut untuk Atasi Tumpahan Minyak di Laut, Bagaimana Caranya?
AP
SerbaSerbi

Saat Mauritius mengumumkan situasi darurat nasional, berbagai lapisan masyarakat ikut bertindak. Ribuan pelajar, aktivis lingkungan, dan penduduk setempat bahu-membahu mengurangi kerusakan pantai.

WowKeren - Warga Mauritius dilaporkan menyumbangkan rambut untuk mencegah penyebaran tumpahan minyak di laut akibat bocoran kapal kargo MV Wakashio.

Dilansir dari CNN, warga Mauritius meluncurkan kampanye untuk mengumpulkan rambut manusia dalam jumlah besar di seluruh pulau. Nantinya, semua rambut yang terkumpul akan dijahit menjadi tabung dan jaring yang mengapung di atas air untuk mengikat minyak.

Disebutkan bahwa para ilmuwan selama bertahun-tahun menyarankan penggunaan rambut sebagai bahan untuk menahan tumpahan minyak di air, karena rambut manusia menyerap minyak dan tidak menyerap air. Bahkan penata rambut di pulau itu dilaporkan menawarkan jasa potong rambut gratis kepada penduduk untuk mendukung kampanye tersebut.

Dilaporkan bahwa saat Mauritius mengumumkan situasi "darurat nasional", semua orang dari berbagai lapisan masyarakat ikut bertindak. Ribuan pelajar, aktivis lingkungan, dan penduduk setempat bahu-membahu mengurangi kerusakan pantai.

Sedangkan para relawan terlihat mengambil minyak dari pantai menggunakan ember dan mengekstraksi lumpur dengan sekop, serta mengisi barel minyak besar untuk membuang bahan bakar berat. Mereka juga telah mengumpulkan botol air plastik dan toples untuk membuat floating boom untuk mencoba memperlambat penyebaran minyak ke laguna dan pantai.


Selain itu, mereka juga terlihat terburu-buru menjahit kain, mengisinya dengan daun tebu dan jerami, serta menjaga floating boom tetap mengapung dengan botol plastik.

Kampanye daring pun telah dimulai dengan tagar #SovNouLagon dan #SaveMauritiusReef agar lebih banyak orang berpartisipasi dan menyumbangkan barang-barang penting yang dibutuhkan.

"Kami mulai melihat ikan mati dan hewan seperti kepiting tertutup minyak, kami mulai melihat burung laut tertutup minyak, termasuk beberapa (hewan lagi) yang tidak bisa diselamatkan," ujar direktur konservasi Mauritius Wildlife Foundation, Vikash Tatayah, kepada surat kabar lokal.

Hingga kini, media sosial masih dipenuhi oleh gambar hewan laut yang mati akibat tumpahan minyak dan relawan mengimbau orang-orang untuk turut membantu mereka.

Sebagai informasi tambahan, insiden ini bermula ketika dua pekan lalu kapal kargo MV Wakashio dilaporkan mengalami kebocoran bahan bakar dan menodai air bersih di kawasan laut yang dilindungi secara ekologis di lepas pantai tenggara.

Upaya menstabilkan kapal curah dan memompa 4.000 ton bahan bakar dari palka telah gagal, dan mendorong Perdana Menteri Mauritius, Pravind Jugnauth menyatakan "keadaan darurat lingkungan" lantaran minyak merembes tanpa henti dari celah di lambung kapal.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts