Terapi plasma darah alias Convalescent plasma sendiri diyakini dapat mendorong pasien untuk melawan COVID-19 lebih cepat dengan bantuan antibodi penyintas.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 24 Agustus 2020 - 10:13 WIB
WowKeren - Pemerintah Amerika Serikat akan mengumumkan keputusan darurat penggunaan plasma darah dari penyintas COVID-19 untuk melawan virus corona. Kasus COVID-19 di AS sendiri sejauh ini telah menewaskan lebih dari 176 ribu orang. Hal itu pun membuat Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan kuat untuk mencegah penularan yang telah melumpuhkan ekonomi negara adidaya tersebut.
Trump sebelumnya diberitakan akan mengumumkan keputusan darurat penggunaan terapi plasma itu lewat konferensi pers. Namun, selain dari pernyataan FDA, sejauh ini Gedung Putih menolak mengomentari rencana presiden tersebut. Yang jelas, juru bicara Presiden AS, Kayleigh McEnany, hanya mengatakan Trump akan mengumumkan "terobosan terapeutik besar."
FDA sendiri telah mengizinkan transfusi plasma untuk pasien virus corona dalam kondisi tertentu, seperti uji klinis dan orang yang sakit parah. Berdasarkan laporan The Washington Post, FDA mengatakan lebih dari 70.000 pasien virus di AS telah menerima transfusi semacam itu.
Terapi plasma darah diyakini dapat mendorong pasien untuk melawan COVID-19 lebih cepat dengan bantuan antibodi penyintas. "Produk ini mungkin akan efektif dalam melawan Covid-19 dan yang paling terkenal dan keuntungan potensial dari produk itu lebih besar dibandingkan risiko yang diketahui," demikian pernyataan resmi Badan Obat-obatan dan Makanan AS (FDA), sebagaimana dilansir dari CNN.
Metode pengobatan terapi plasma darah ini sebetulnya sudah digunakan pada sejumlah pasien di AS dan negara-negara lain. Namun, sejauh mana keefektifannya masih diperdebatkan oleh para ahli. Dan, beberapa ahli di antaranya telah memperingatkan bahwa hal itu dapat membawa efek samping.
"Convalescent plasma mungkin berhasil, meskipun masih perlu dibuktikan dalam uji klinis, tetapi tidak sebagai pengobatan penyelamatan untuk orang yang sudah sakit parah," kata Len Horovitz, spesialis paru di RS Lenox Hill, New York City.
Lebih jauh, Horovitz mengatakan terapi plasma mungkin akan bakerja lebih baik setelh seseorang terpapar virus, yakni ketika tubuhnya mencoba menetralkan infeksi corona.
Sebagai informasi tambahan, sejauh ini AS telah mencatat sebanyak 5,874,146 kasus COVID-19 berdasarkan data statistik Worldometers.info. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 180,604 jumlah kematian dan 3,167,063 pasien sembuh. Hingga kini, AS masih menjadi negara dengan jumlah kasus maupun kematian COVID-19 tertinggi di dunia.
Sedangkan secara global, tercatat ada lebih dari 23,5 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia, dengan 812,487 angka kematian. Ada lebih dari 16 juta pasien yang dinyatakan telah pulih sehingga saat ini kasus aktif COVID-19 menyentuh angka 6,690,013 orang.
(wk/luth)