Kandidat presiden dari Partai Demokrat tersebut menyampaikan pidato bernada sindiran jelang sehari sebelum kunjungan Donald Trump ke Kenoshan, Negara Bagian Wisconsin.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 03 September 2020 - 15:03 WIB
WowKeren - Capres AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, menuduh Presiden Donald Trump sebagai racun yang memicu terjadinya kekerasan dalam gelombang protes dan kerusuhan mematikan yang terjadi selama berminggu-minggu di Amerika Serikat.
Dalam pidatonya pada Senin (31/8) lalu di Pittsburgh, negara bagian Pennsylvania, Biden mencap pemerintahan Trump sebagai kehadiran racun di AS. Dilansir dari CNN pada Kamis (3/9), kandidat presiden dari Partai Demokrat itu menyampaikan pidato bernada sindiran jelang sehari sebelum kunjungan Trump ke Kenoshan, Wisconsin.
"Api sedang berkobar dan kami memiliki seorang presiden yang mengipasi api daripada memadamkannya. Presiden tidak mampu mengatakan yang sebenarnya, tidak mampu menghadapi fakta dan tidak mampu menyembuhkannya," ucap Biden dalam pidatonya.
Sindiran tersebut dilontarkan seiring dengan ucapan Biden yang mengatakan jika Trump tidak mampu menghentikan kekerasan yang terjadi selama bertahun-tahun ia menjabat. Sebaliknya, sebagai presiden ia justru mengobarkan kekerasan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
"Trump mungkin percaya mengucapkan 'hukum dan ketertiban' membuatnya kuat. Tapi kegagalannya dalam meminta pendukungnya untuk berhenti bertindak sebagai milisi bersenjata di negara ini menunjukkan kepada Anda betapa lemahnya dia," tutur Biden.
Trump pada Selasa (1/9) mengunjungi Kenosha usai peristiwa penembakan terhadap pria kulit hitam keturunan Afrika-Amerika, Jacob Blake, oleh petugas kepolisian kulit putih. Dalam kunjungannya itu, Trump mengaku enggan menemui pihak keluarga karena mereka ingin melibatkan pengacara.
"Saya berbicara dengan pendeta (keluarga) dan saya pikir akan lebih baik tidak melakukan apa pun di mana ada pengacara yang terlibat. Mereka ingin saya berbicara. Mereka ingin melibatkan pengacara dan saya pikir itu tidak pantas," ucapnya.
Sekretaris pers Gedung Putih, Kayleigh McEnany, mengungkap Trump dalam kunjungan hanya bertemu dengan aparat kepolisian dan beberapa pemilik bisnis untuk menaksir kerusakan akibat unjuk rasa buntut penembakan terhadap Jacob Blake.
Terkait hal ini, keluarga Jacob Blake mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak tertarik berbicara dengan Presiden Trump. "Presiden Trump adalah seorang rasis yang memicu ketegangan rasial. Dia telah menimbulkan ketegangan rasial sejak dia berada di Gedung Putih. Mengapa, sebagai paman Jacob, saya ingin berbicara dengannya? Fokus kami adalah pada Jacob dan menyembuhkan komunitas," kata perwakilan pihak keluarga.
Terlepas dari hal tersebut, Biden dan Trump memang makin gencar saling melempar kritik jelang pilpres. Debat pertama Pilpres AS antara Donald Trump dan Joe Biden bakal dilaksanakan pada 29 September. Sementara dua debat berikutnya akan berlangsung pada 15 dan 22 Oktober mendatang.
Sementara itu, pilpres AS akan digelar pada 3 November mendatang. Joe Biden akan berpasangan dengan Senator Kamala Harris yang diusung dari Partai Demokrat. Pasangan Joe Biden dan Kamala Harris bakal bersaing ketat dengan duet petahana Donald Trump dan Mike Pence. Satu kandidat lagi adalah Jo Jorgensen yang diusung Partai Libertarian.
(wk/luth)