Syaratnya adalah berusia 18 hingga 30 tahun, tidak pernah terinfeksi atau mengalami gejala COVID-19, dan tidak memiliki riwayat penyakit atau faktor yang merugikan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 21 Oktober 2020 - 11:52 WIB
WowKeren - Peneliti dari Imperial College London di Inggris tengah merekrut para relawan yang akan diinfeksi dengan menggunakan virus corona (COVID-19). Syaratnya adalah berusia 18 hingga 30 tahun, tidak pernah terinfeksi atau mengalami gejala COVID-19, dan tidak memiliki riwayat penyakit atau faktor yang merugikan.
Rekrutmen tersebut dilakukan untuk mencari relawan uji coba potensi vaksin COVID-19 yang didukung oleh pemerintah Inggris. Dalam uji coba tersebut, subjek manusia yang sehat akan diinfeksi dengan COVID-19 untuk mempercepat prosesnya.
"Sengaja menginfeksi relawan dengan apa yang dikenal sebagai patogen manusia tidak pernah dianggap enteng," tutur Peter Openshaw yang merupakan investigator penelitian tersebut, Selasa (20/10). "Tetapi penelitian ini memberikan informasi yang sangat banyak mengenai penyakit, bahkan yang sudah banyak diteliti seperti COVID-19."
Uji coba tersebut akan dilakukan oleh Imperial College London sebagai bagian dari kemitraan antara pemerintah, laboratorium, perusahaan layanan percobaan hVIVO, dan Royal Free London NHS Foundation Trust. Pemerintah Inggris bahkan menyediakan 43,5 juta dolar untuk mendanai proyek tersebut.
Apabila disetujui oleh regulator dan komite etika, proyek tersebut akan dimulai pada bulan Januari 2021 mendatang. Sedangkan hasilnya diharapkan pada Mei 2021.
Para peneliti menjelaskan bahwa pada tahap awal pengujian, mereka bertujuan untuk menemukan jumlah virus paling sedikit yang diperlukan untuk bisa menginfeksi seseorang. Setelah fase itu selesai, para peneliti akan mempelajari cara kerja vaksin di dalam tubuh untuk menghentikan atau mencegah COVID-19, serta menyelidiki kemungkinan pengobatan.
Sisi negatif proyek ini adalah para relawan akan diinfeksi dengan menggunakan virus corona yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Peneliti utama Imperial College dalam proyek tersebut, Dr. Chris Chiu, sendiri menegaskan bahwa keselamatan para relawan adalah prioritas nomor satu.
Meski tidak ada penelitian semacam ini yang bebas dari risiko, tutur Dr Chiu, para ilmuwan akan bekerja sekeras mungkin untuk membatasi risiko tersebut. Sedangkan sisi positifnya, proyek dengan pendekatan "human challenge studies" ini bisa meningkatkan pemahaman tentang virus seperti COVID-19 dengan cara yang unik dan mempercepat pengembangan pengobatan dan vaksin.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Vaksin Kate Bingham menyatakan bahwa proyek tersebut akan menambah pemahaman mengenai virus corona. "Banyak yang dapat kami pelajari mengenai imunitas, lama proteksi vaksin, dan infeksi ulang," pungkas Bingham.
(wk/Bert)