Pengukuran suhu menggunakan termometer inframerah non-kontak (NCIT) dipengaruhi oleh banyak variabel seperti lingkungan dan peralatan yang dapat mempengaruhi keakuratan
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 18 Desember 2020 - 16:59 WIB
WowKeren - Salah satu gejala yang paling umum terjadi pada pasien yang menderita COVID-19 adalah demam. Studi oleh Johns Hopkins Medicine dan University of Maryland School of Medicine menjelaskan bahwa pemeriksaan suhu, kurang efektif dalam menghentikan penyebaran virus. Terutama pengukuran suhu yang dilakukan dengan menggunakan termometer inframerah non-kontak (NCIT) seperti thermogun.
Hasil pengukuran pada NCIT dipengaruhi oleh banyak variabel. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh William Wright sebagai salah satu penulis studi tersebut. Sejumlah variabel yang dimaksud adalah manusia, lingkungan dan peralatan, yang kesemuanya dapat mempengaruhi keakuratan alat pengukur suhu.
Kendati demikian, bukan berarti tidak ada cara untuk mendapatkan pengukuran pasti untuk suhu manusia. Namun cara ini kurang tepat jika dipakai sebagai salah satu upaya untuk screening.
"Satu-satunya cara untuk mengukur suhu inti secara andal membutuhkan kateterisasi arteri pulmonalis," ujarnya melanjutkan. "Yang tidak aman dan tidak praktis sebagai tes screening."
Wright dan Mackowiak memberikan statistik yang menunjukkan bahwa NCIT gagal sebagai tes screening untuk infeksi SARS-CoV-2. Misalnya pada awal tahun ini, ketika NCIT dilakukan untuk mengecek suhu pelancong di bandara.
"Pada 23 Februari 2020, lebih dari 46.000 pelancong diperiksa dengan NCIT di bandara AS," jelasnya. "Dan hanya satu orang yang diidentifikasi mengidap SARS-CoV-2."
Wright mengatakan jika masalah lain pada NCIT adalah alat tersebut mungkin memberikan pembacaan yang menyesatkan selama demam. Sehingga hal ini membuat sulit untuk menentukan kapan seseorang benar-benar demam atau tidak.
"Selama periode ketika demam meningkat, terjadi peningkatan suhu inti yang menyebabkan pembuluh darah di dekat permukaan kulit mengerut dan mengurangi jumlah panas yang dilepaskannya," jelas Wright. "Dan saat demam turun, yang terjadi justru sebaliknya. Jadi, mendasarkan deteksi demam pada pengukuran NCIT yang mengukur panas yang memancar dari dahi mungkin sama sekali melenceng."
Lebih jauh, ia pun memberikan saran untuk perbaikan. Salah satunya dengan menurunkan suhu batas yang digunakan untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi.
(wk/zodi)