BPOM AS Selidiki Kasus Alergi Vaksin COVID-19
Dunia

Regulator medis Inggris telah mengatakan bahwa siapa pun dengan riwayat anafilaksis atau reaksi alergi parah terhadap obat atau makanan, tidak boleh diberi vaksin Pfizer-BioNTech.

WowKeren - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), melaporkan sedang menyelidiki sekitar lima reaksi alergi yang terjadi. Kondisi itu terjadi kepada orang-orang diberikan vaksin Covid-19 dari Pfizer Inc dan BioNTech SE di Amerika Serikat pekan ini.

Direktur Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi FDA, Dr. Peter Marks, mengatakan reaksi alergi telah dilaporkan di lebih dari satu negara bagian, termasuk di Alaska. Dia menjelaskan, bahan kimia yang disebut polietilen glikol (PEG) merupakan bahan dalam vaksin Pfizer bisa menjadi penyebab reaksi tersebut.

Marks mengatakan, bahwa reaksi alergi terhadap PEG bisa jadi lebih umum daripada yang dipahami sebelumnya. Kasus di Alaska mirip dengan dua kasus yang dilaporkan pekan lalu di Inggris.

Regulator medis Inggris telah mengatakan bahwa siapa pun dengan riwayat anafilaksis atau reaksi alergi parah terhadap obat atau makanan, tidak boleh diberi vaksin Pfizer-BioNTech. Namun, FDA telah mengatakan bahwa kebanyakan orang Amerika yang alergi harus dipastikan dalam kondisi aman untuk menerima vaksin.

Orang yang sebelumnya memiliki reaksi alergi parah terhadap vaksin atau bahan dalam vaksin khusus ini yang harus menghindari suntikan. Regulator juga mensyaratkan bahwa perawatan medis yang tepat untuk reaksi alergi harus tersedia saat suntikan diberikan jika terjadi reaksi anafilaksis.


Selain vaksin Pfizer-BioNTech, kandungan PEG juga terdapat dalam vaksin Moderna. FDA mengatakan vaksin Moderna tidak boleh diberikan kepada individu yang diketahui memiliki riwayat reaksi alergi parah terhadap komponen suntikan. Vaksin itu baru saja mendapatkan persetujuan darurat untuk digunakan di AS.

"Kami belum memiliki semua rincian laporan dari Alaska tentang kemungkinan reaksi alergi yang serius tetapi secara aktif bekerja dengan otoritas kesehatan setempat untuk menilai. Kami akan memantau dengan cermat semua laporan yang menunjukkan reaksi alergi serius setelah vaksinasi dan memperbarui bahasa pelabelan jika diperlukan," kata juru bicara Pfizer.

Sebelumnya 44 ribu relawan mengikuti uji klinis Pfizer. Secara keseluruhan, uji coba tidak menemukan masalah keamanan yang serius. Meski demikian regulator dan perusahaan terus memantau efek samping setelah vaksinasi.

Terlepas dari hal tersebut, AS memulai program vaksinasi massal pada Senin (14/12) yang diprioritaskan bagi tenaga medis. Program vaksinasi dilakukan setelah FDA pekan lalu memberikan izin penggunaan darurat vaksin corona buatan Pfizer BioNTech.

Keputusan FDA ini muncul setelah melakukan penelitian pada hasil uji klinis, tapi juga ditengarai berada di bawah tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump. Sebelumnya Trump dan jajaran pejabatnya kerap menuding FDA bertindak lambat dan bahkan mengancam akan mencopot kepala FDA Stephen Hahn, jika tidak memberikan persetujuan pada akhir pekan lalu.

AS rencananya akan memvaksinasi 20 juta orang hingga akhir Desember, 30 juta orang pada Januari 2021, dan 50 juta orang pada Februari.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait