Misinformasi di Twitter Turun Drastis Usai Akun Trump Diblokir Selamanya
Dunia

jumlah misinformasi tentang klaim kecurangan di Pilpres Amerika Serikat (AS) di sejumlah platform media sosial menurun drastis usai akun-akun Donald Trump diblokir selamanya.

WowKeren - Akun Twitter Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah diblokir secara permanen usai kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 lalu. Tak hanya Twitter, Trump juga diblokir oleh sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Snapchat, Instagram bahkan YouTube.

Setelah pencekalan Trump itu, jumlah misinformasi tentang klaim kecurangan di pilpres AS turun drastis. Berdasarkan temuan perusahaan analitik Zignal Labs, percakapan tentang kecurangan pilpres AS turun dari 2,5 juta mention menjadi 688.000 mention di beberapa media sosial satu minggu setelah akun Twitter Trump diblokir.

Dikutip dari Washington Post, Senin (18/1), studi Zignal Labs meliputi periode dari 9 Januari, sehari setelah Trump dicekal oleh Twitter, sampai 15 Januari. Zignal Labs juga menemukan penggunaan tagar yang terkait dengan kerusuhan di Gedung Capitol AS menurun.

Tagar #FightforTrump yang banyak digunakan di Facebook, Instagram, Twitter dan media sosial lainnya seminggu sebelum kerusuhan, turun hingga 95%. Begitu juga dengan tagar #HoldtheLine dan kata kunci 'March for Trump' yang penggunaannya turun 95%.


Peneliti menemukan cuitan Trump langsung di-retweet oleh pengikutnya dengan kecepatan yang luar biasa, apapun subjeknya. Ia pun jadi memiliki kemampuan yang tidak tertandingi untuk membentuk percakapan di media sosial.

"Intinya adalah de-platforming, terutama pada skala yang terjadi minggu lalu, membatasi momentum dan kemampuan untuk menjangkau audiens baru dengan cepat," kata Director of Digital Forensic Research Lab Graham Brookie. "Meskipun demikian, ini juga memiliki tendensi untuk memperkuat pandangan mereka yang sudah terlibat dalam penyebaran informasi palsu semacam itu."

Pemblokiran akun Trump bukan satu-satunya penyebab menurunnya jumlah misinformasi online. Tidak lama setelah akun Trump ditangguhkan, Twitter juga menghapus 70.000 akun yang terkait dengan teori konspirasi QAnon yang memegang peran penting dalam kerusuhan 6 Januari.

"Bersama-sama, tindakan tersebut kemungkinan akan menurunkan jumlah misinformasi online secara signifikan dalam jangka pendek," kata peneliti di University of Washington Kate Starbird. "Apa yang terjadi dalam jangka panjang masih belum jelas."

Sebelumnya, CEO Twitter Jack Dorsey menyebutkan jika keputusannya untuk memblokir Trump selamanya di platform berlogo burung biru itu adalah langkah yang sangat tepat. "Saya yakin ini adalah keputusan yang tepat untuk Twitter," cuit Dorsey.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts