Peneliti menemukan kelelawar di Thailand yang memiliki virus corona mirip dengan Sars-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19. Virus bernama RacCS203 ditemukan dalam darah kelelawar tapal kuda.
- Nidya Putri
- Kamis, 11 Februari 2021 - 14:26 WIB
WowKeren - Peneliti menemukan kelelawar di Thailand yang memiliki virus corona mirip dengan Sars-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19. Virus tersebut diberi nama RacCS203.
Virus RacCS203 ditemukan dalam darah kelelawar tapal kuda yang disimpan di gua buatan di suaka margasatwa timur Thailand. Dalam penelitian di jurnal Nature Communication, studi yang dipimpin oleh Chulalongkorn University di Bangkok melakukan pengurutan genom pada virus baru tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa virus RacCS203 membawa 91,5 persen dari kode genetik Sars-CoV-2. "Ini juga sangat mirip dengan virus Corona lain yang dikenal sebagai RmYN02, yang ditemukan pada kelelawar di Yunnan, Tiongkok," kata para peneliti dilansir dari The New York Times, Kamis (11/2).
Hanya saja para peneliti mengatakan virus baru ini memiliki perbedaan dalam protein spikenya, yang membuatnya tidak mungkin menginfeksi sel manusia. Antibodi dalam darah kelelawar yang terinfeksi mampu menetralkan virus Sars-CoV-2.
Para peneliti mengatakan penemuan kelelawar yang terinfeksi menunjukkan bahwa virus Corona lebih menyebar pada hewan di seluruh Asia daripada yang diketahui sebelumnya. Mempelajari lebih banyak tentang hewan ini disebut dapat mengungkap asal-usul pandemi.
"Kami perlu melakukan lebih banyak pengawasan pada hewan. Pengawasan ini harus dilakukan juga di luar Tiongkok," kata profesor Universitas Singapura Lin-Fa Wang kepada BBC. Meski pengambilan sampet terbatas, para peneliti yakin bahwa virus corona dengan tingkat keterkaitan genetik yang tinggi dengan Sars-CoV-2 secara luas terdapat pada kelelawar di banyak negara dan wilayah di Asia.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah melakukan penelitian asal-usul virus corona di Tiongkok menegaskan jika COVID-19 benar bersirkulasi di hewan sebelum menginfeksi manusia. Hanya saja, WHO menekankan bahwa belum ditemukan metode bagaimana virus Corona ini bisa "berpindah" dari hewan ke manusia.
Hal ini membantah spekulasi yang menyebutkan jika virus corona berasal dari laboratorium di Kota Wuhan, Tiongkok. WHO juga menegaskan bahwa pihaknya akan tetap bekerja untuk menemukan bagaimana virus tersebut bisa menginfeksi manusia hingga menjadi pandemi.
(wk/nidy)