Pria Inggris yang juga merupakan buronan memilih kembali menyerahkan diri ke polisi. Usai kabur dan jalani kehidupan lockdown di tengah pandemi corona, ia menjadi stres dan memilih hidup di penjara dengan damai.
- Ruth Meliana
- Jumat, 19 Februari 2021 - 09:55 WIB
WowKeren - Pria asal Inggris yang menjadi buronan akhirnya memilih menyerahkan diri ke kantor polisi. Ia yang sempat kabur dari penjara dibuat syok dan stres dengan kehidupan dunia luar yang harus lockdown akibat pandemi virus corona.
Dilansir The Guardian, pria yang identitasnya tidak diungkapkan ini menyerahkan diri ke kantor polisi di West Sussex, Inggirs pada Rabu (17/2) sore waktu setempat. Kepada polisi, ia mengaku sudah tidak tahan dengan kehidupan dunia luar.
Pria ini mengatakan ia ingin menghindari keharusan menghabiskan lebih banyak waktu selama lockdown bersama dengan orang-orang yang tinggal bersamanya. Menurutnya, kelakuan rekan serumah memang membuatnya stres.
Karena itu, ia memilih kembali menjalani kehidupannya di penjara dengan harapan mendapat kedamaian dan ketenangan. Polisi mengatakan pria itu kembali ke penjara setelah menyerahkan dirinya ke kantor polisi Burgess Hill. Kini ia kembali menjalani masa tahanannya di balik jeruji besi.
Kembali ke penjara tampaknya lebih menarik bagi pria ini daripada dikurung dengan orang lain. Apalagi, di penjara ia bisa tinggal di dalam satu sel seorang diri tanpa perlu berinteraksi dengan banyak orang.
Polisi Sussex, Insp Darren Taylor dalam akun Twitter-nya menuliskan kejadian unik ini. Ia menjelaskan pria itu menyerahkan diri dengan damai dan tenang demi bisa menjalani waktu seorang diri.
“Damai dan tenang! Buronan laki-laki menyerahkan dirinya ke tim kemarin sore setelah memberi tahu kami bahwa dia lebih suka kembali ke penjara daripada harus menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang tinggal bersamanya!," tulis Taylor di akun Twitternya. "Satu di tahanan dan kembali ke penjara untuk menjalani beberapa waktu lebih sendiri."
Sementara itu, psikolog menyebut situasi lockdown di Inggris memang telah memicu lonjakan kasus depresi atau gejala stres berkelanjutan. Gejala ini mirip dengan kelelahan di tempat kerja, termasuk masalah dengan tidur dan konsentrasi. Selain itu, banyak orang putus asa untuk kontak dengan manusia setelah berbulan-bulan isolasi relatif atau total.
Berbagai penelitian juga menemukan bahwa pandemi COVID-19 telah mempengaruhi hubungan dengan keluarga dan teman. Penelitian dari Universitas Oxford contohnya menemukan bahwa tingkat stres, depresi, dan kecemasan di antara orang tua dan pengasuh meningkat selama lockdown diterapkan.
Tak hanya itu, pasangan juga merasakan ketegangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh relasi dukungan amal Relate, hampir seperempat pasangan (23 persen) mengatakan bahwa mereka sedang berjuang dengan hubungan mereka. Penguncian wilayah juga telah membuat 8 persen orang menyadari bahwa mereka perlu mengakhiri hubungan mereka.
(wk/lian)