Menurut Komisi Eropa yang merupakan cabang eksekutif Uni Eropa, tuntutan tersebut diajukan karena pihak AstraZeneca dianggap tidak menghormati kontrak pasokan vaksin.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 27 April 2021 - 10:29 WIB
WowKeren - Uni Eropa resmi mengajukan tuntutan terhadap produsen vaksin virus corona, AstraZeneca. Menurut Komisi Eropa yang merupakan cabang eksekutif Uni Eropa, tuntutan tersebut diajukan karena AstraZeneca dianggap tidak menghormati kontrak pasokan vaksin.
Selain itu, pihak AstraZeneca juga dianggap tidak memiliki rencana yang "dapat diandalkan" untuk memastikan pengiriman vaksin tepat waktu. Seorang juru bicara Komisi Eropa menyatakan bahwa tuntutan tersebut telah diluncurkan pada Jumat (23/4) dengan dukungan ke-27 negara anggota.
Beberapa pihak di Uni Eropa juga mengklaim bahwa AstraZeneca memberikan perlakuan istimewa kepada Inggris. Meski demikian, pihak AstraZeneca telah membantahnya.
Pihak AstraZeneca menilai langkah hukum Uni Eropa ini "tidak berdasar". Mereka juga disebut akan "membela diri dengan kuat di pengadilan".
"AstraZeneca telah sepenuhnya mematuhi Perjanjian Pembelian di Muka dengan Komisi Eropa dan akan membela diri di pengadilan," demikian bunyi pernyataan AstraZeneca, Senin (26/4). "Kami yakin setiap litigasi tidak berdasar dan kami menyambut baik kesempatan ini untuk menyelesaikan sengketa ini secepat mungkin."
Adapun tuntutan ini bermula dari kesepakatan yang ditandatangani Komisi Eropa pada Agustus 2020 lalu untuk 300 juta dosis vaksin Oxford-AstraZeneca, dengan opsi tambahan 100 juta dosis. Sementara itu, pihak AstraZeneca pada awal tahun 2021 ini mengumumkan pasokan vaksinnya akan berkurang karena masalah produksi.
Dari total 80 juta dosis vaksin yang rencananya dikirim pada kuartal pertama 2021, hanya 30 juta dosis yang terealisasi. Komisi Eropa juga menyatakan bahwa AstraZeneca hanya akan menyediakan 70 juta dosis vaksin pada kuartal kedua 2021, bukannya 180 juta dosis seperti perjanjian awal.
"Persyaratan kontrak, atau beberapa persyaratan kontrak, belum dihormati," tutur juru bicara tersebut dikutip dari BBC, Selasa (27/4). "Kami ingin memastikan bahwa ada pengiriman cepat dengan jumlah dosis yang cukup ... yang telah dijanjikan berdasarkan kontrak."
Sementara itu, Komisaris Kesehatan Stella Kyriakides menyatakan bahwa prioritas Komisi Eropa adalah untuk "memastikan pengiriman vaksin COVID-19 berlangsung untuk melindungi kesehatan Uni Eropa". "Setiap dosis vaksin dihitung. Setiap dosis vaksin menyelamatkan nyawa," cuit Kyriakides di akun Twitter-nya.
Seorang pejabat Uni Eropa bahkan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa tuntutan tersebut diajukan untuk "mengirim pesan" kepada kepala eksekutif AstraZeneca Pascal Soriot. Adapun langkah hukum tersebut menandai eskalasi sengketa berkepanjangan antara AstraZeneca dan Uni Eropa terkait pasokan vaksin virus corona.
(wk/Bert)