Warga mengatakan tentang kerabat mereka yang terbaring tewas di reruntuhan atau hilang. Sedangkan UNICEF mengatakan sekitar 170 anak termasuk di antara yang hilang.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 25 Mei 2021 - 10:52 WIB
WowKeren - Gempa berulang kali dilaporkan mengguncang kota Goma di Kongo pada hari Senin (24/5). Kejadian ini menyusul peristiwa meletusnya gunung Nyiragongo pada akhir pekan sebelumnya.
Gunung Nyiragongo, salah satu gunung berapi paling aktif dan berbahaya di dunia, meletus pada Sabtu (22/5) malam waktu setempat. Erupsi ini mengirimkan lava yang membara selebar setengah mil menuruni bukit menuju kota berpenduduk 2 juta orang.
Akibat insiden ini, pasokan listrik utama terputus. Jalan utama juga terblokir sehingga menghambat proses pengiriman bantuan. Pada Senin, dilaporkan ada 32 korban tewas.
Menyusul insiden itu, serangkaian gempa bumi kecil melanda kota itu, wilayah sekitarnya di timur Republik Demokratik Kongo dan melintasi perbatasan ke Rwanda. Salah satu gempa mencapai skala 5,1 pada pukul 10:37 pagi (0837 GMT) pada hari Senin. Toko yang sempat dibuka akhirnya ditutup kembali lantaran gempa semakin parah. Penduduk setempat khawatir ini dapat memicu terjadinya letusan lagi.
Sejak Minggu, serangkaian gempa terus terjadi setiap selang waktu 30 menit. Dario Tedesco, seorang ahli vulkanologi yang berbasis di Goma, mengatakan kepada Reuters bahwa danau lava di gunung berapi tersebut telah terisi kembali setelah kosong akibat erupsi pada Sabtu malam.
Ia mengatakan jika gempa tersebut dampaknya terbilang kecil untuk saat ini. Namun ia juga mengingatkan bahaya langsung karena bisa menyebabkan keretakan.
"Bahayanya kecil saat ini, tapi gempa bumi adalah bahaya langsung karena bisa membuka retakan lagi," ujarnya. "Jadi inilah mengapa saya sedikit khawatir. Kita harus sangat berhati-hati."
Sementara itu, sekitar 1.000 rumah hancur dan lebih dari 5.000 orang mengungsi akibat letusan itu. Korban tewas kemungkinan masih bisa bertambah. Warga mengatakan kepada Reuters tentang kerabat yang terbaring tewas di reruntuhan atau hilang. Sedangkan UNICEF mengatakan sekitar 170 anak termasuk di antara yang hilang.
(wk/zodi)