Deddy Corbuzier menghadirkan Koordinator PPKM darurat yang juga Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sebagai bintang tamu podcastnya. Meski sukses mengajukan pertanyaan tajam, Deddy membongkar perasaannya saat bertemu Luhut.
- Ria Susilo Wardhani
- Selasa, 06 Juli 2021 - 16:24 WIB
WowKeren - Koordinator PPKM darurat yang juga Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dikenal sebagai sosok yang sangat disegani. Karena itu, Deddy Corbuzier merasa bangga saat Luhut bersedia hadir di podcast YouTubenya.
Dalam podcast 6 Juli, Deddy sempat "mencecar" Luhut dengan beragam pertanyaan. Salah satu yang dibahas oleh Deddy yakni tentang sosok Presiden Joko Widodo.
"Kita untung ada seperti Pak Jokowi," kata Luhut yang kerap mendapat kepercayaan dari Jokowi untuk mengurus banyak hal. "Definisikan apa untungnya punya Jokowi?" tanya Deddy. "Paling tidak kita nggak nyontoh pemimpin yang nggak benar. Karena pemimpinnya sederhana, kerja keras, nggak maling, kan malu (kalau maling). Saya kan tentara, banyak mantan komandan saya (memuji), style Pak Jokowi something," seru Luhut.
"Bapak tentara, presidennya sipil, anda jenderal bintang empat. Bapak berarti bawahan Pak Jokowi?" tanya Deddy. "Berarti anda nurut dong? Memang bapak bisa nurut sama orang?"
"Iya nurut. Saya selalu nurut pada sistem. Saya cuma dua, kalau saya nggak suka, saya resign atau saya diam," kata Luhut. "Jadi kalau nggak ada Pak Jokowi, belum tentu Indonesia seberuntung ini?" tanya Deddy. "Dalam kondisi sekarang ini iya, proses pengambilan keputusan cepat dan berani. Saya berapa kali testing dong, saya kan lebih tua. Beliau bilang, 'Ndak papa Lut, kerjain, saya tanggung jawab'. Itu satu bentuk pemimpin yang patut kita contoh."
Deddy juga sempat mengungkit soal alasan Jakarta tidak melakukan lockdown demi mengurangi angka kematian akibat COVID-19. Luhut membeberkan kalau tak semudah itu memutuskan untuk melakukan lockdown.
"Lockdown itu gini, tidak segampang itu juga, mati semua rakyat nanti kalau kita lockdown. Jadi kita pikir-pikir bagaimana saya kan sudah bilang tadi, bagaimana kita nyeimbangkan, masih bisa. Sekarang pertanyaan juga kalau kita lockdown, apa bisa kita lockdown, itu juga pertanyaan berikutnya. Belum tentu juga bisa," ujar Luhut. "Jadi kita timbang-timbang matang. Makanya saya bilang tadi, proses pengambilan keputusan itu tidak sesederhana itu, tidak satu angle aja kita lihat. Banyak pertimbangan-pertimbangan lain sebelum go."
Obrolan seru Deddy dan Luhut ini menuai reaksi kagum banyak orang. Disisi lain, Deddy justru secara tak terduga mengungkap perasaannya sebagai pihak yang mewawancarai Luhut.
Tak disangka, Deddy yang dikenal frontal sebenarnya juga grogi menghadapi sosok kaliber seperti Luhut. Deddy mengaku bangga sekaligus deg-degan.
"Kalau dengar nama Pak Luhut minimal tarik nafas tiga kali pak. Saya pertama kali bangga, tapi yang kedua saya sesak nafas pak tapi bukan COVID," ujar Deddy disambut tawa oleh Luhut. "Saya seram, tapi ternyata beliau tidak semenyeramkan yang orang bayangkan. Orangnya baik dan beda."
(wk/riaw)