Travel bubble Singapura-Australia terpaksa ditangguhkan sampai akhir 2021 karena ledakan COVID-19. Sedangkan sikap Singapura yang 'berkawan' dengan virus Corona dikecam Legislatif Hong Kong.
- Elvariza Opita
- Senin, 12 Juli 2021 - 15:40 WIB
WowKeren - Dalam menangani wabah COVID-19, Singapura bergerak dengan prinsip infeksi saluran pernapasan ini berpotensi menjadi endemi. Karena itulah pemerintah setempat berusaha "menormalkan" kembali aspek-aspek kehidupan masyarakat termasuk dari segi pariwisata.
Singapura diketahui menyiapkan layanan travel bubble dengan sejumlah negara. Namun rencana pembukaan travel bubble ini malah menemui sejumlah halangan, seperti penundaan dengan Australia dan bahkan terancam gagal dengan Hong Kong.
Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia, Dan Tehan, menyebut travel bubble antara negaranya dan Singapura kemungkinan ditunda sampai akhir tahun tahun 2021. Pasalnya saat ini Australia sedang berjibaku dengan lonjakan kasus COVID-19 di Sydney serta sulitnya mencapai laju vaksinasi COVID-19 yang diinginkan di dalam negeri.
"Sangat sulit untuk menentukan waktunya," ujar Tehan kepada The Age, dilansir pada Senin (12/7). "Tetapi jika Anda melihat rencana Singapura serta rencana Perdana Menteri, besar harapan kami travel bubble dengan Singapura akan dibuka akhir tahun ini."
Sedangkan rencana travel bubble Singapura dan Hong Kong disambut kritikan keras dari sejumlah anggota legislatif Hong Kong. Rupanya Hong Kong menyoroti sikap "pasrah" Singapura yang meyakini COVID-19 akan menjadi endemi dan setiap masyarakat mau tidak mau akan berbaur dengan infeksi virus tersebut.
Malah mereka mendorong dibukanya perjalanan bilateral Hong Kong dan Tiongkok (daratan utama). Sebab Hong Kong harus terus berpegang pada tujuan untuk meniadakan transmisi lokal COVID-19 alih-alih "berkawan" seperti bagaimana Singapura bersikap.
"Tiongkok tidak akan menoleransi sama sekali celah di bandara kita. Jika Singapura mengubah target anti-pandemi mereka, maka pemerintah harus berhenti membicarakan travel bubble dengan Singapura," tegas anggota legislatif pro-Beijing, Michael Tien, dalam rapat parlemen pada Jumat (9/7).
Hal senada juga disampaikan Alice Mok dari kubu yang sama dengan Tien. "Kita tidak seharusnya mengadakan travel bubble dengan negara yang tidak bertujuanmencapai nol infeksi alih-alih hidup berdampingan dengan virus," katanya.
Meski demikian Hong Kong masih mempertimbangkan lebih lanjut rencana travel bubble ini. Sebab salah satu pertimbangannya adalah laju vaksinasi COVID-19 di Singapura sangat tinggi.
(wk/elva)