Kapal Tiongkok Disebut Buang Limbah ke Laut Cina Selatan, Dampaknya Terlihat Sampai ke Luar Angkasa
Pexels/Suzy Hazelwood
Dunia

Berdasarkan analisis, pembuangan tersebut sangat mungkin mengarah ke 'zona mati' di mana tidak ada ikan maupun terumbu karang yang bertahan lantaran kurangnya oksigen.

WowKeren - Sebanyak 236 kapal Tiongkok yang ada di Laut Tiongkok Selatan dilaporkan membuang limbah mentah ke laut. Hal ini mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang dan ekosistem laut.

Adapun laporan tersebut dirilis pada Senin (12/7) dan didasarkan pada temuan dari Simularity, sebuah perusahaan analisis citra satelit AS. Dalam sebuah wawancara dengan ABS-CBN News, CEO Liz Derr mengatakan bahwa perusahaannya tidak dapat secara pasti mengatakan bahwa kapal-kapal itu adalah milik Tiongkok.

Namun, tampaknya "kapal-kapal itu adalah kapal yang sama dan telah ada sejak Maret dan terlihat sangat mirip". Hal ini membawanya untuk menyimpulkan bahwa kapal-kapal itu kemungkinan besar berasal dari Tiongkok.

Ia melanjutkan bahwa efek pembuangan tersebut bahkan bisa dilihat dari luar angkasa. Perusahaan itu mengatakan jika kapal-kapal yang berlabuh di sekitar Kepulauan Spratly membuang limbah mentah dari 14 Mei 2016 hingga 17 Juni 2021.


"Ratusan kapal yang berlabuh di sana membuang limbah mentah, setiap hari ke terumbu karang yang mereka tempati," tambah Derr. "Ketika kapal tidak bergerak, kotoran menumpuk."

Berdasarkan analisis Simularity, pembuangan tersebut sangat mungkin mengarah ke "zona mati". Di zona ini, tidak akan ada lagi ikan maupun terumbu karang yang mampu bertahan lantaran kurangnya oksigen. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan fitoplankton yang berlebihan, mengambil oksigen dari ikan dan terumbu karang di daerah tersebut.

Kondisi ini berpotensi membahayakan stok ikan di wilayah itu, yang merupakan sumber makanan penting di wilayah tersebut. Meski demikian, CNN melaporkan jika Pejabat Tiongkok dan Filipina meragukan keaslian laporan Simularity tersebut.

Mereka menunjukkan bahwa foto-foto yang digunakan dalam laporan itu berasal dari lokasi lain. Tentu saja hal ini dibantah oleh pihak perusahaan. Sementara itu menurut CNN, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan bahwa mereka sedang memverifikasi temuan tersebut. Terlepas dari klaim yang saling bertentangan oleh negara-negara di LCS, "semua negara harus menjadi penjaga yang bertanggung jawab" terhadap lingkungan.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait