Presiden Guinea Ditangkap dalam Kudeta Militer Usai Baku Tembak di Dekat Istana Negara
AFP/Michael Tewelde
Dunia

Foto dan video yang beredar di WhatsApp menunjukkan Alpha Conde duduk tanpa alas kaki dan diam, mengenakan jeans dan kemeja sambil dikelilingi oleh pria berseragam militer.

WowKeren - Satu unit tentara elit nasional di Guinea pada Minggu (5/9) mengatakan telah menahan presiden Alpha Conde. Mereka juga mengklaim telah merebut kekuasaan menyusul laporan-laporan tentang tembakan di dekat ibu kota.

Seorang tentara dengan bendera negara menyelimuti tubuhnya menyampaikan pidato di televisi nasional. Ia mengatakan bahwa parlemen negara dan konstitusi telah ditangguhkan dan perbatasan telah ditutup. "Kami menentukan takdir kami di tangan kami sendiri," kata tentara itu.

Pengumuman itu muncul setelah berjam-jam terjadi baku tembak di dekat istana presiden di ibu kota Conakry dan peringatan bagi orang-orang untuk tetap berada di dalam rumah. Kementerian pertahanan Guinea mengklaim dalam sebuah pernyataan telah menggagalkan upaya kudeta oleh pasukan militer.

"Pengawal presiden, didukung oleh pasukan pertahanan dan keamanan yang loyal dan republik, mengatasi ancaman dan mengusir kelompok penyerang," kata kementerian itu. "Operasi keamanan dan penyisiran terus dilakukan untuk memulihkan ketertiban dan perdamaian."


Namun foto dan video yang dibagikan di platform perpesanan WhatsApp tampaknya justru berkebalikan dengan klaim pemerintah tersebut. Dalam foto dan video yang beredar, terlihat Conde duduk tanpa alas kaki dan diam, mengenakan jeans dan kemeja sambil dikelilingi oleh pria berseragam militer.

Peristiwa ini terjadi di tengah kerusuhan yang meluas di Afrika ketika Kolonel Assimi Goita, pemimpin kudeta militer, diangkat sebagai presiden sementara Mali setelah menggulingkan pemerintah negara itu. Pemimpin kudeta Mamady Doumboya mengatakan para elit Guinea bertanggung jawab atas "penginjakan hak-hak warga negara" dan "tidak menghormati prinsip-prinsip demokrasi."

Diketahui, Conde mengambil alih kekuasaan pada 2010 selama pemilihan umum. Ini adalah pemilihan demokratis pertama di negara itu sejak memperoleh kemerdekaan dari Prancis pada 1958.

Conde berjanji untuk mereformasi budaya korupsi dan otoritarianisme negara itu. Namun pada Maret lalu negara ini telah mencatat kerusuhan ketika Conde memperkenalkan amendemen yang memungkinkan dia untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga dan lagi pada bulan Oktober ketika dia terpilih kembali.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait