Calon PM Jepang Tegaskan Setiap Langkah Stimulus Ekonomi Harus Prioritaskan Perluasan Jaringan 5G
Pexels/Imani Williams
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pemerintah Jepang masih berupaya untuk memulihkan kembali perekonomian yang sempat goyah akibat pandemi COVID-19. Sementara itu, PM Jepang malah mengundurkan diri.

WowKeren - Pandemi COVID-19 yang melanda negara di dunia menyebabkan sektor perekonomian mengalami kegoyahan bahkan penurunan yang cukup drastis. Maka dari itu, kini, setiap negara di dunia secara bertahap memulihkan keadaan perekonomiannya, termasuk Jepang.

Menteri Vaksin Jepang, Taro Kono yang mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri (PM) pada Kamis (16/9), menuturkan bahwa setiap langkah stimulus ekonomi baru harus memprioritaskan pengeluaran untuk energi terbarukan dan perluasan jaringan 5G secara nasional. Melansir Asahi, dalam sebuah wawancara, ia enggan memaparkan anggaran yang dikeluarkan dalam pemulihan ekonomi tersebut.

Kono menegaskan bahwa pemerintah harus menetapkan area yang ditargetkan sebelum memperdebnatkan seberapa besar anggaran atau paket itu seharusnya. Maka dari itu, ia enggan untuk membeberkan pengeluaran yang semestinya digunakan.

"Seharusnya, tidak ada ukuran paket stimulus yang ditentukan sebelumnya," terang Kono. "Perlu ada daftar prioritas, seperti langkah-langkah untuk mempromosikan energi terbarukan dan memperluas jaringan 5G secara nasional."


Lebih lanjut, Kono menerangkan dengan keadaan masih dalam pandemi COVID-19 yang merusak kondisi perekonomian, maka sulit untuksecara tiba-tiba mengubah kebijakan ultra longgar Bank of Japan. "Bank Sentral harus dengan jelas mengkomunikasikan niat kebijakannya ke pasar," imbuhnya.

Kono mengatakan bahwa Jepang telah gagal dalam membuat banyak kemajuan dalam strategi pertumbuhannya, elemen kunci dari kebijakan stimulus "Abenomics" mantan PM Shinzo Abe. Hal ini lantas menandakan bahwa reformasi struktural akan menjadi salah satu prioritasnya dalam menempatkan ekonomi pada jalur pemulihan yang solid.

"Jelas cadangan internal perusahaan yang cukup tidak berarti upah yang lebih tinggi," jelas Kono. "Kita perlu memperjelas bahwa apa yang akan kita tuju adalah upah yang lebih tinggi."

Sementara itu, mengenai keputusan PM Jepang saat itu Yosihide Suga mengundurkan diri secara mendadak itu menimbulkan reaksi kesibukan kampanye di antara tokoh-tokoh senior Partai Demokrat Liberal (LDP). Banyak nama-nama yang muncul disebut sebagai calon PM Jepang yang baru.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts