Ribuan Orang Turun ke Jalanan Bangkok, Tuntut UU Larang Kritik Monarki Thailand Dihapus
Al Jazeera/Andrew Nachemson
Dunia

Ketika ditanya mengapa dia memutuskan untuk terlibat dalam aktivisme politik, salah satu peserta aksi unjuk rasa tertawa dan memberikan jawaban satu kata: 'Kemarahan'.

WowKeren - Ribuan orang turun ke jalanan di Bangkok sembari menyerukan reformasi pada monarki Thailand dan pemerintahan militer. Meski sempat terganggu hujan, unjuk rasa pada Minggu (31/10) ini merupakan salah satu protes terbesar di Thailand dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu tuntutan unjuk rasa kemarin adalah pencabutan Bagian 113, yakni UU kejam yang mengkriminalisasi kritik terhadap Raja Thailand. Meski reformasi monarki dulunya merupakan hal yang tabu, para pengunjuk rasa muda di Thailand kini semakin berani dalam menyuarakan tuntutan mereka.

Melansir Al Jazeera, salah seorang pengunjuk rasa tampak mengenakan kostum frontman dari serial Korea Selatan populer "Squid Game". Ia berjalan sambil memegang papan yang bertuliskan, "Hapuskan 112. Hapuskan rasa takut. Hapuskan ketidakpedulian. Hapuskan keputusasaan."

Sementara itu, lembaga HAM Amnesty International tampak turut turun ke jalan dan mengumpulkan tanda tangan untuk sebuah petisi. Mereka menuntut pembebasan aktivis terkemuka yang telah ditangkap dan didakwa di bawah hukum.

Trio penabuh genderang wanita memainkan beat perang. Instrumen musik mereka dipasangi stiker yang mencoret istilah "112". Adapun kelompok penabuh genderang ini mulai bermain di aksi unjuk rasa sekitar setahun yang lalu.


"Awalnya kami bermain drum hanya dengan ember, tetapi sia-sia karena kami terus menghancurkannya (ember)," ujar salah satu anggota.

Menurutnya, seseorang dengan murah hati menyumbangkan drum yang mereka gunakan dalam aksi protes kemarin. Ketika ditanya mengapa dia memutuskan untuk terlibat dalam aktivisme politik, dia tertawa dan memberikan jawaban satu kata: "Kemarahan".

"Kita harus melakukan sesuatu terhadap apa yang telah dilakukan pemerintah kepada rakyat Thailand," ujar anggota yang lain. "Kita bisa memiliki masa depan yang cerah."

Sentimen serupa diungkapkan oleh peserta unjuk rasa lain. Adapun sebagian besar peserta unjuk rasa ini berasal dari kalangan anak muda.

"Kami tidak dapat melihat masa depan kami jika kami tetap berada di bawah rezim kediktatoran dan monarki," ujar salah satu pengunjuk rasa yang dijuluki Jib. "Kami ingin memiliki suara, kami ingin pemerintah bekerja untuk kami, bukan raja… Kami ingin manusia setara."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait