Para peneliti menemukan kera makaka yang dijadikan hewan uji tak lagi terinfeksi HIV setelah mendapat suntikan calon vaksin. Tim riset berharap calon vaksin bisa diuji ke manusia dalam 5 tahun ke depan.
- Elvariza Opita
- Kamis, 11 November 2021 - 18:03 WIB
WowKeren - Hingga kini, Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi momok untuk dunia kesehatan. Belum ada vaksin maupun obat yang benar-benar ampuh melawan penyakit ini meskipun sudah bertahun-tahun menjadi objek penelitian ilmuwan di berbagai negara.
Krisis yang dialami pengidap HIV/AIDS pun semakin buruk setelah ada pandemi COVID-19. Namun tampaknya hasil penelitian dari ilmuwan Jepang ini bisa memberi angin segar, lantaran mereka berhasil mengembangkan calon vaksin yang menunjukkan kinerja yang baik dalam membunuh HIV pada hewan uji kera.
Direktur Pusat Penelitian Primata Tsukuba di bawah Institut Nasional Inovasi Biomedis, Kesehatan, dan Nutrisi Jepang, Yasuhiro Yasutomi, menjelaskan bahwa timnya berhasil mengembangkan teknologi agar vaksin bisa membunuh HIV. Harapannya hasil yang positif pada kera makaka ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kemudian diuji pada manusia dalam lima tahun ke depan.
Tim peneliti fokus pada substansi yang dikeluarkan oleh bakteri yang bisa memperkuat respons imun hewan uji. Vaksin pun dikembangkan dengan mencampurkan gen bakteri tersebut dengan gen virus penyebab AIDS yang telah dilemahkan.
Vaksin kemudian diinjeksikan kepada makaka pemakan kepiting dan menyebabkan primata tersebut terinfeksi HIV. Namun setelah diteliti lebih lanjut, tim ilmuwan mengaku tidak lagi mendeteksi keberadaan virus HIV dalam tubuh hewan tersebut.
Makaka yang telah divaksin kemudian disuntikkan dengan virus HIV yang lebih kuat, yang biasanya berakhir membunuh hewan uji. Namun nyatanya virus tersebut hilang di sebanyak 6 dari 7 makaka yang menjadi objek uji.
Sel-sel darah dan limfa dari makaka yang selamat diambil kemudian diinjeksikan ke kera yang sehat. Empat dari kera ini pun kemudian ditemukan bebas dari virus HIV.
Hasil riset ini membuat tim berencana masuk ke tahap berikutnya, yakni mengembangkan vaksin dengan HIV yang diekstraksi dari pasien positif yang tengah menjalani pengobatan. Harapannya vaksin yang mereka kembangkan bisa menjadi metode perawatan lain terhadap pasien positif HIV/AIDS.
AIDS sendiri saat ini memang bukan lagi penyakit yang sangat mematikan selama pasien positif aktif meminum obat dari kelompok anti retrovirus (ARV). Namun obat tersebut tidak benar-benar bisa membunuh virus serta berpotensi menyebabkan HIV yang menginfeksi menjadi toleran terhadap obat-obatan yang diminum pasien.
(wk/elva)