Yoon Suk Yeol berhasil meraup 48,6 persen suara dan mengalahkan saingannya, sedangkan Lee Jae-myung dari Partai Demokrat yang berkuasa mendapat 47,8 persen suara.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 10 Maret 2022 - 08:45 WIB
WowKeren - Korea Selatan telah menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres) pada Rabu (9/3) kemarin. Hasilnya, Yoon Suk Yeol, seorang mantan jaksa dari oposisi Partai People Power, terpilih sebagai presiden baru Korsel.
Yoon Suk Yeol berhasil meraup 48,6 persen suara dan mengalahkan saingannya, sedangkan Lee Jae-myung dari Partai Demokrat yang berkuasa mendapat 47,8 persen suara. Yoon Suk Yeol menyebut hasil Pilpres ini sebagai "kemenangan orang-orang hebat".
Pada Kamis (10/3), Yoon Suk Yeol juga mengatakan akan menghormati konstitusi dan parlemen, serta bekerja dengan partai-partai oposisi ketika ia menjabat sebagai pemimpin negara berikutnya. Ia mengucapkan terima kasih dan menghibur para Capres lain.
"Kompetisi kami sudah berakhir untuk saat ini," tutur Yoon Suk Yeol dalam pidatonya. "Kita harus bergandengan tangan dan bersatu menjadi satu untuk rakyat dan negara."
Dalam kesempatan terpisah, Yoon Suk Yeol mengatakan dia akan menempatkan prioritas utama pada "persatuan nasional". Ia menambahkan bahwa semua orang harus diperlakukan sama, terlepas dari perbedaan regional, politik, dan sosial ekonomi mereka.
"Saya akan memperhatikan mata pencaharian masyarakat, memberikan layanan kesejahteraan yang hangat kepada yang membutuhkan, dan melakukan upaya terbaik agar negara kita berfungsi sebagai anggota komunitas internasional dan dunia bebas yang bangga dan bertanggung jawab," paparnya.
Nantinya, Yoon Suk Yeol akan menjabat sebagai Presiden baru Korsel pada bulan Mei 2022 mendatang. Ia akan menggantikan Presiden Moon Jae In.
Presiden terpilih Korsel ini dikenal sebagai seorang pemula politik yang menarik perhatian publik atas kiprahnya sebagai jaksa. Ia dikenal telah melakukan penyelidikan tanpa kompromi terhadap beberapa skandal korupsi paling terkenal di Korsel.
Meski demikian, sikap konservatif Yoon Suk Yeol menuai kontroversi. Menurut Profesor Sosiologi di Stanford, Gi Wook Shin, Yoon Suk Yeol membangun reputasinya sebagai "pejuang sengit melawan penyalahgunaan kekuasaan, bukan pemimpin demokratis konvensional yang akan menghargai negosiasi dan terdiri". Menurut Gi Wook Shin, Yoon Suk Yeol telah menjadi "ikon" kaum konservatif karena dipandang sebagai "orang terbaik untuk mengalahkan kandidat Partai Demokrat, meskipun dia tidak memiliki pengalaman kepemimpinan politik".
Tak hanya itu, Yoon Suk Yeol juga dikenal sebagai seorang anti-feminis. Ia bahkan berjanji untuk menghapus kementerian kesetaraan gender dan mengklaim bahwa wanita Korsel tidak mengalami diskriminasi sistemik.
Sementara itu, Lee Jae-myung telah mengakui kekalahannya dalam Pilpres kali ini. Ia pun memberikan selamat atas kemenangan Yoon Suk Yeol.
"Saya melakukan yang terbaik, tetapi gagal memenuhi harapan Anda," ujarnya dalam konferensi pers. "Presiden terpilih, saya sangat meminta Anda untuk mengatasi perpecahan dan konflik dan membuka era integrasi dan persatuan."
(wk/Bert)