Hubungan panas antara Taiwan dan Tiongkok dikhawatirkan juga akan memicu perang seperti Rusia-Ukraina. Menteri Pertahanan Taiwan baru-baru ini menyebut bahwa yang terbaik adalah menghindari konflik.
- Amelia Nur Fatimah
- Kamis, 10 Maret 2022 - 16:37 WIB
WowKeren - Di tengah perang antara Rusia-Ukraina, kondisi hubungan Tiongkok dan Taiwan yang memanas juga memicu kekhawatiran. melihat ancaman tersebut, Menteri Pertahanan Taiwan, Chiu Kuo-cheng pada Kamis (9/3) menyampaikan bahwa yang terbaik adalah jika semua orang menghindari konflik.
Chiu Kuo-cheng menyebut, tidak peduli siapa yang menang dalam perang masa depan antara Taiwan dan China, itu akan menjadi "kemenangan yang menyedihkan". Berbicara kepada wartawan sebelum sesi parlemen tentang implikasi keamanan dari invasi Rusia ke Ukraina, Chiu mengatakan kedua belah pihak akan membayar harga yang mahal jika terjadi konflik antara Tiongkok dan Taiwan.
"Jika ada perang, terus terang, semua orang akan sengsara, bahkan untuk pemenangnya. Seseorang harus benar-benar memikirkan ini. Semua orang harus menghindari perang," ujar Chiu, melansir Reuters.
Sementara itu, Taiwan diketahui telah meningkatkan level siaganya sejak perang di Ukraina pecah. Taiwan melaporkan tidak ada kegiatan militer Tiongkok yang tidak biasa, meskipun angkatan udara mereka terus melakukan misi sesekali ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan. "Kami melihat perubahan dengan tenang dan kami siap untuk itu," kata Chiu tentang Tiongkok.
Dewan Urusan Daratan Taiwan yang membuat kebijakan tentang Tiongkok mengatakan dalam sebuah laporan kepada sesi parlemen bahwa Tiongkok terlalu sibuk memastikan stabilitas untuk kongres utama Partai Komunis pada akhir tahun untuk tiba-tiba meningkatkan ketegangan dengan Taiwan. Sedangkan ahli strategi militer Taiwan telah mempelajari invasi Rusia ke Ukraina dan perlawanan negara itu. Hal itu digunakan untuk strategi pertempuran Taiwan sendiri jika terjadi perang dengan tetangga raksasanya Tiongkok.
Militer Taiwan telah "merujuk" pengalaman Ukraina untuk dapat memanfaatkan pertempuran di tanah airnya dan telah memasukkan "perang asimetris" ke dalam perencanaannya sendiri, tambah kementerian itu. Chiu mengatakan krisis Ukraina telah memberi Taiwan "banyak pelajaran" dan Taiwan membuat persiapan yang sesuai.
Diketahui bahwa Tiongkok telah menolak mengadakan diskusi dengan Tsai, memotong mekanisme dialog yang diberlakukan di bawah pemerintahan Presiden Ma Ying-jeou 2008-2016. Dimana hal itu berpotensi meningkatkan risiko salah perhitungan jika ketegangan meningkat secara dramatis.
(wk/amel)