Masyarakat masih kerap tertipu penampilan mewah pelaku flexing yang ternyata hanya fake rich. Berikut ciri-ciri pelaku flexing fake rich yang kamu harus tahu!
- Sisilia Rizky Azalea
- Jumat, 25 Maret 2022 - 11:12 WIB
WowKeren - Istilah flexing tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Fenomena pamer kemewahan di media sosial seringkali menimbulkan pertanyaan publik soal status kekayaan pelaku flexing sebenarnya.
Di artikel sebelumnya, WowKeren telah memberi pandangan pembaca bahwa tak semua pelaku flexing benar-benar kaya. Namun, masyarakat ternyata masih kerap tertipu dengan penampilan pelaku flexing yang cuman pura-pura kaya. Hal ini turut dibenarkan oleh pengamat sosial, Devie Rahmawati.
"Manusia itu memang dengan mudah akan terpikat atau tertipu dengan tampilan luar yang berisikan keindahan kemewahan. Kenapa? Ketika mereka lihat ada orang yang mampu menampilkan kemewahan, mereka langsung akan percaya bahwa orang ini adalah orang yang hebat, orang yang bisa sukses. Sehingga apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka lakukan cenderung dipercayai," kata Devie Rahmawati.
Nah, WowKeren kali ini akan mengulas tentang beberapa karakteristik pelaku flexing yang ternyata tak benar-benar kaya. Penasaran seperti apa? Yuk, simak ulasan di bawah ini.
(wk/Sisi)1. Hobi Membicarakan Harta dan Uang
Orang kaya palsu atau fake rich biasanya hobi menonjolkan diri di depan orang lain. Mereka selalu berbicara tentang uang dan harta. Entrepreneur sekaligus public speaker, Chandra Putra Negara, turut membenarkan hal ini.
"Selalu topiknya bicara duit mulu. Gak ada topik lain selain duit. Dibahasnya duit mulu. Fake rich bicaranya duitnya berapa, kekayaannya berapa, asetnya berapa, rumahnya dimana, mobilnya apa. Tapi orang yang benar-benar kaya bicara sosial, berguna buat orang lain, bermanfaat bedanya di situ," kata Chandra Putra Negara.
2. Mendahulukan Keinginan Ketimbang Kebutuhan
Fake rich biasanya lebih mementingkan keinginan ketimbang kebutuhan. Mereka akan membeli semua barang yang diinginkan tanpa pikir panjang. Bisanya sikap atau sifat tersebut berujung pada utang piutang.
Contoh sederhana yang sering ditemukan di masyarakat yakni keinginan membeli mobil padahal belum memiliki tempat tinggal. Hal tersebut turut dibenarkan oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
"Mereka ini fake rich lucu juga. Orang rumahnya belum ada tapi sudah mempunyai mobil yang besar dan bagus sekali. Bisa dibayangkan anda kalau belum memikirkan rumah tapi sudah memikirkan mobil," kata Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
3. Terobsesi Berteman Dengan Selebriti
Circle pertemanan dengan selebriti membuat masyarakat percaya bahwa seorang fake rich pasti benar-benar kaya. Prof. Rhenald Kasali, Ph.D lagi-lagi membenarkan hal tersebut.
"Nah, yang perlu diwaspadai, mereka senang bertemu dengan selebriti. Ini bukan hanya di Indonesia, ini terjadi di beberapa negara. Naikin brand mereka jadi orang kaya juga," terang Prof. Rhenald Kasali.
Pebisnis dan public speaker, Tom MC Ifle, ternyata juga sependapat dengan Prof. Rhenald Kasali. "Biasanya mereka fake rich itu bergaul masuk ke dalam komunitas the real rich, yang the real rich gak tahu," ungkap Tom MC Ifle.
4. Lebih Peduli Dengan Merek Ketimbang Kualitas
Fake rich senang sekali memakai barang branded. Biasanya mereka lebih mementingkan merek ketimbang kualitas. Mereka bahkan rela membeli barang KW agar terlihat setara dengan para "sultan".
Menurut Tom MC Ifle, tindakan ini sengaja dilakukan oleh para fake rich agar orang lain terkesan dengan penampilannya. "Baju-bajunya semuanya harus brand, mereka butuh satu afirmasi aku kaya. Mereka udah tahu apa yang membuat orang impress dengan mereka," ungkap Tom MC Ifle.
5. Sering Menjatuhkan Nama Orang Lain
Fake rich selalu merasa bahwa mereka nomor satu. Tak jarang, pelaku flexing kerap mencari kepercayaan dengan cara menjatuhkan imej orang lain.
"Maling teriak maling. Mereka (fake rich yang suka flexing) akan bilang loe hati-hati dengan dia. Ini orang kayak begini gak punya bisnis. Gue kaya buktinya begini-begini. Coba kasih tunjuk rekeningnya berapa. Padahal actually itulah dia. Dia mendapat validasi dengan cara menjatuhkan orang lain," kata Tom Mc Ifle.
6. Kurang Rasa Empati Dan Menghargai Orang Lain
Rasa empati pelaku flexing tergolong sangat minim. Mereka tidak sungkan pamer kekayaan di saat banyak orang lain mengalami kesulitan ekonomi.
Tentunya, masyarakat kecil yang menyaksikan beragam konten flexing hanya bisa gigit jari. Prof. Rhenald Kasali, Ph.D membenarkan bahwa flexing dilakukan oleh mereka yang kurang empati.
"Pelaku Flexing ini sangat sembarangan. Uang dibuang-buang, dianggapnya begitu muda. Tidak empati dengan kesulitan orang lain," ujar Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
7. Narsistik
Fake rich biasanya hobi membagikan segala aktivitasnya di media sosial. Mereka terlalu kagum dengan diri sendiri dan ingin dianggap paling kaya.
"Mereka menunjukkan bawaan yang narsistik. Mereka kagum dengan diri sendiri. Kagum dengan kekayaannya. Senang disebut-sebut orang yang paling kaya dan sebagainya," beber Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
Dengan mengetahui 7 ciri orang kaya palsu atau fake rich di atas, semoga sobat WowKeren tidak tertipu lagi dengan fenomena flexing. Pesan dari pengusaha sekaligus motivator, Merry Riana, ini juga bisa menjadi pengingat. Hidup sederhana sesungguhnya jauh lebih baik ketimbang pura-pura kaya.
"Kekayaan bukan berarti kemewahan. Seringkali kekayaan ditemukan dalam kesederhanaan. Buat apa pamer sana-sini kalau ternyata buat pusing sendiri. Walaupun kemewahan menggoda hati tapi tetap harus mawas diri. Jangan malu terlihat sederhana tapi malu lah ketika kamu pura-pura kaya," pesan Merry Riana.
Di artikel ini, sobat WowKeren telah mengenal ciri-ciri pelaku flexing yang tak benar-benar kaya. Nah, di pembahasan selanjutnya WowKeren bakal mengulas cara menghadapi para pelaku flexing. So, nantikan artikel selanjutnya ya! See you.